hujan salju

Minggu, 20 April 2014

Ilmu Bantu dalam Pendidikan






ILMU BANTU DALAM PENDIDIKAN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu: Drs. H. Ihsan, M. Ag

 







Disusun oleh kelompok 3 :
Zumrotus Sholihah      : 112225
Nazihul Fu’adah           : 112235
Nanik Setiyani              :  112245


Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus
Tarbiyah/PAI
 2013
BAB II
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya ilmu pendidikan merupakan wujud sadar seseorang insan yang dilakukan secara sistematis dan ilmiah, dalam hal ini bahwasanya ilmu pendidikan memilki ilmu-ilmu yang terkait untuk mewujudkan kesempurnaan dalam mepelajari pendidikan yang setiap saat semakin berkembang, oleh karena itu kami akan menjelaskan tentang ilmu-ilmu yang terkait dalam pendidikan, semisal ilmu bantu psikologi pendidikan, ini merupakan sebuah ilmu yang mempengaruhi dalam dunia pendidikan, berhasil tidaknya kita dalam dunia pendidikan dapat kita kaji dan pelajari yang ada kaitannya dengan ilmu psikologi (kejiwaan), karena dunia pendidikan itu kita di tuntut tidak hanya membuat siswa didik yang asal mulanya tidak tahu menjadi tahu, akan tetapi bagaimana kita mengetahui karakteristik dan potensi yang dimiliki seorang murid, dengan psikologi ini kita dapat mengetahui semua itu.
Jika kita kaitkan lagi dengan ilmu-ilmu lain, ilmu pendidikan sangatlah luas bahasannya atupun keterkaitannya dengan ilmu lain, karena ilmu pendidikan itu mengajarkan agar setiap insan itu dapat berkembang, baik berkembang dalam dunia pendidikan formal, maupun informal bahkan erat kaitannya dengan kehidupan yang ada di masyarakat kita nantinya, oleh karenya ada ilmu sosial, politik, manajemen, antropologi dan semua ilmu ini sangat membantu dalam ilmu pendidikan.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cakupan dan disiplin ilmu lain yang terkait dengan ilmu pendidikan?
2.      Bagaimana landasan dasar filosofi ilmu pendidikan?
3.      Hubungan  ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi, manajemen, dan politik dengan ilmu pendidikan?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Cakupan Disiplin Ilmu Yang Terkait Dengan Ilmu Pendidikan
Konsep pendidikan mempunyai banyak makna karena pendidikan merupakan kegiatan unik bagi manusia. Keunikan terletak pada bagaimana manusia mendidik kaumnya sendiri, dari hal-hal yang buruk   yang seharusnya mereka tinggal menuju hal-hal yang baik yang seharusnya mereka lakukan. Para ahli juga banyak  memberikan rumusan tentang latar belakang, pengertian, hingga fenomena terbaru tentang pendidikan, yang semakin memperkaya khazanah pemahaman manusia tentang makna pendidikan.
Menurut retno (2000), pendidikan sebagai pembahasan tentang konsep pendidikan perlu dikaitkan dengan ilmu pendidikan karena keduanya menyangkut masalah hakekat manusia yang menjelaskan kedudukan peserta didik dan pendidik dalam interaksi pendidikan. Filsafat pendidikan diturunkan dari filsafat tertentu dimana pemilihan unsur-unsur serta bagaimana penerapannya tergantung  pada bagaimana keyakinan ahli ilmu pendidikan yang bersangkutan. Keyakinan tersebut  juga dipengaruhi oleh pengalaman mereka dalam melaksanakan kegiatan pendidikan sebelumnya. Kumpulan kegiatan pendidikan yang ditelaah melalui penelitian atau refleksi fisafat memberi sumbangan pada perkembangan ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan yang sudah mapan dalam pengembangan dirinya juga memberikan tafsiran tertentu kepada bahan yang diperoleh dari pengalaman perbuatan mendidik[1].
Dalam perkembangannya ilmu pendidikan dikembangkan oleh para ahli psikologi.Di dunia islam, pendidikan dikembangkan oleh mereka yang dikenal sebagai ahli psikologi, seperti ibn miskawaih, Al-ghazali dll.Begitu pula halnya, pendidikan eropa, yang kemudian menjadi istilah  pendidikan umum, dikembangkan oleh para psikolog. Johan frederich Herbalt adalah pionernya.Ia merupakan filusuf dan psikolog yang pandangan-pandangannya banyak dikutip oleh  freud.Walaupun pendidikan dikembangkan oleh para psikologi, ia bukan subdisiplin dari psikologi.Pendidikan menembus banyak disiplin ilmu. Sebagai gejala perilaku, pendidikan dipelajari oleh macam-macam disiplin ilmu, seperti psikologi, sosiologi, filsafat, dan disiplin ilmu lainnya termasuk antropologi.[2]
Dalam penjelasan diatas kami dapat sedikit menyimpulkan bahwasannya ilmu pendidikan dengan disiplin ilmu lainnya itu saling ada keterkaitan satu sama lain dan itupun sifatnya saling melengkapi dan saling memberikan penjelasan contoh saja dalam buku Manejemen Pendidikan Berbasis Pada Madrasah.Dalam sub bahasan Emotional Question (EQ) dalam kepemimpinan pendidikan.
Dalam pendekatan sifat (tract approach) atau juga disebut teori sifat, di bahas tentang sifat-sifat yang harus dimiliki seseorang pemimpin yaitu yang membedakannya dengan bukan pemimpin. Bahkan sebenarnya para ahli telah mengidentifikasi lima sifat negatif yang mencegah orang yang menjadi pemimpin yaitu tidak mengetahui (uninformed), terlalu kaku, tidak berperan serta, otoriter dan suka menyerang dengan kata-kata.
Secara garis besar teori sifat ini terdiri dari sifat positif dan sifat negatif. Sifat positif sebagaimana di kemukakan oleh Davis (1983) meliputi dewasa, leluasa, cerdas, humoris, prestatif. Ghizelli dan stodgill mengemukakan sifat ideal seorang pemimpin terdiri dari: intepegent, supervisory ability, inisiative, self assurance serta personality. Keith Davis mengemukakan sifat ideal yang terdiri dari: intellegent, social maturity and bredth, iner motivation serta personality.
Dalam sifat-sifat yang dijelaskan oleh para tokoh di atas, kecerdasan emosi atau yang sering disebut emotional question (EQ) juga sangat menentukan keberhasilan suatu organisasi, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan, maka dari itu seorang kepala sekolah juga harus memiliki EQ yang baik guna mencapai keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan[3].
Contoh lain pendidikan yang terkait dengan politik, yaitu mimpi Aggaran 20% Untuk Pendidikan.Diusirnya tenaga kerja indonesia (TKI) indonesia dari malaysia beberapa waktu lalu sebenarnya merupakan aib tersendiri bagi bangsa ini. Mereka diusir sebagai tenaga kerja kasar mereka tidak terdidik dan tidak mampu memenuhi prasyarat-prasyarat bekerja di Negeri orang dengan benar.
Menyikapi masalah itu, hanya sedikit sekali pejabat yang mengaitkannya dengan upaya bagaimana meningkatkan pendidikan melalui peningkatan anggaran pendidikan. Dalam laporan akhir tahun harian pikiran  rakyat tentang Anggaran Pendidikan, dipertanyakan apakah anggaran pendidikan yang 20% itu dapat meningkatkan kualitas mutu pendidikan kita.[4]
Jika dibanding dengan negara ASEAN lainnya, anggaran pendidikan indonesia memang berada di bawah. Bahkan jika dibanding Laos sekalipun. Lalu anggaran pendidikan pun menjadi komoditas politik yang bisa “diperjualbelikan”. Kenyataannya meskipun anggaran pendidikan sekitar 20% dari Anggaran Perencanaan Belanja Negara (APBN) kualitas pendidikan kita masih semrawut dan masih banyak yang perlu dibenahi, masih banyak sekolah-sekolah dan fasilitasnyapun tidak layak sebagai tempat untuk mencari ilmu, bahkan masih ada sekolah yang hanya beralaskan tanah, ini sungguh memprihatinkan, dengan Anggaran Negara yang begitu besar, secara kenyataanya fasilitas maupun sarana pendukung lainnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan, apakah ini merupakan salah dari pemerintanhya atau pejabat terkait yang menanggani hal ini, merupakan sebuah pertanyaan besar yang perlu di cari akar masalahnya.[5]
Sedangkan hubungannya dengan ilmu antropologi yaitu, pada dasarnya objek utama dalam dunia pendidikan adalah manusia, sedangkan ilmu antropologi sendiri yatiu ilmu yang mempelajari tentang manusia dan kebudayaannya, jadi setiap tingkah laku maupun interaksi manusia adalah bersifat pendidikan, namun itu sifatnya masih bersifat makna luas, sedangkan dalam kebudayaannya sendiri,banyak hal yang dapat dikaitkan dalam dunia pendidikan, diantaranya ketika kita sebagai orang jawa yang gemar membantu sesama, ini secara tidak langsung mendidik anak atau murid kita, untuk memiliki jiwa sosial yang tinggi,
B.     Landasan Dasar Filosofi Ilmu Pendidikan
Landasan adalah sesuatu yang menjadi sandaran semua dasar dalam suatu bangunan, sedangkan dasar adalah fundamen yang menegakkan suatu bangunan, sehingga menjadi kuat dan kokoh dalam pengembangan pendidikan Islam.Dalam usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan yang tepat sebagai tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu,pendidikan sebagai suatu usaha dalam membentuk manusia dan peradabannya harus mempunyai landasan yang kuat ke mana semua kegiatan itu dihubungkan atau disandarkan,baik sebagai sumber maupun dasar yang menjadi pedoman penerapan dan pengembangannya.
Filsafat pendidikan adalah ilmu yang pada hakekatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Oleh karena bersifat filosofis dengan sendirinya filsafat pendidikan ini pada hakekatnya adalah penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan.Hubungan antara filsafat dan ilmu pendidikan ini tidak hanya ke-insidental, melainkan suatu keharusan.[6]
Oleh karena filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengenai realita, maka dikupaslah antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan metodologi pendidikan. Di samping itu, pengalaman pendidik dalam menuntun pertumbuhan dan perkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan dengan realita. Semuanya ini dapat disampaikan kepada filsafat untuk dijadikan bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri.
Bila pendidik memandang  formasubstansialitas manusia itu bersifat biologis, dapat mempunyai visi pendidikan dan naturalistis. Pendidik dalam lingkungan adalah jean Jacques rousseau, yang menuliskan pandangan-pandangannya dalam bukunya yang berjudul emile. Dalam buku ini dituliskan bahwa latihan indera adalah praktek pendidikan yang amat penting artinya.
Lain halnya bila anak didik dipandang sebagai makhluk spiritual. Landasan untuk menentukan ide dan tujuan pendidikan adalah pandangan keabadian dan ke-Tuhanan. Anak didik dipandang mempunyai kepribadian bukan sebagai entitet mekanistis belaka.
Filsafat pendidikan telah sewajarnya dipelajari oleh mereka yang memperdalam ilmu pendidikan dan keguruan. Ada beberapa alasan untuk ini :
  1. Adanya problema-problema pendidikan yang timbul dari zaman ke zaman yang menjadi perhatian ahlinya masing-masing.
  2. Dapatlah diperkirakan bahwa barang siapa yang mempelajari filsafar pendidikan dapat mempunyai pandangan-pandangan yang jangkauannya meliputi hal-hal yang diketemukan secara ekseprimental atau empiris.
Filsafat Pendidikan dapat diartikan juga upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam study mengenai masalah-masalah pendidikan.
Menurut Zanti Arbi (1988) Filsafat Pendidikan adalah meliputi sebagai berikut :
  1. Menginspirasikan
Memberi insparasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Sudah tentu ide-ide ini didasari oleh asumsi-asumsi tertentu tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan dan negara.
  1. Menganalisis
Memeriksa teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar dalam penyusunan konsep pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancan, umpang tindih, serta arah yang simpang siur.
  1.  Mempreskriptifkan
Upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. Yang jelaskan bisa berupa hakekat manusia bila dibandingkan dengan mahluk lain, aspek-aspek peserta didik yang patut dikembangkan; proses perkembangan itu sendiri, batas-batas bantuan yang bisa diberikan kepada proses perkembangan itu sendiri, batas-batas keterlibatan pendidik, arah pendidikan yang jelas, target-target pendidikan bila dipandang perlu, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat anak-anak.
  1. Menginvestigasi
Memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan. Pendidikan tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatau konsep atau teori pendidikan untuk dipraktikan dilapangan. Pendidik seharusnya mencari sendiri konsep-konsep pendidikan di lapangan atau melalui penelitian-penelitian.
Dari kajian tentang filsafat pendidikan selanjutnya dihasilkan berbagai teori pendidikan diantaranya :
a)      Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
b)      Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna.
c)      Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.
d)     Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
e)      Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.
C.    Hubungan Ilmu Sosiologi, Politik, Ekonomi, Manejemen, Antropologi, Filsafat dan Psikologi dengan Ilmu Pendidikan.
Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi Pendidikan dan pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari masalah pembangunan. Konsep pembangunan dalam bidang social ekonomi sangat beragam tergantung dari penggunaannya. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan yang kemudian dikenal dengan istilah invesment inhuman Capital. Dewasa ini berkembang teori modal manusia ( Teori Human Capital) menjelaskan proses pendidikan yang memiliki proses positif pada pertumbuhan ekonomi. Teori ini mendominasi literature pembangunan ekonomi dan pendidikan pada pasca perang dunia kedua sampai pada tahun 1970-an. Senada dengan pendapat tersebut Nanah Fatah mengemukakan bahwa investasi sumber daya manusia ( SDM) dan diperkuat hasil penelitiannya yang telah membuktikan pentingnya pendidikan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Sumbangan pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin kuat setelah memperhitungkan efek interaksi antara pendidikan dengan bentuk investasi fisik lainnya. Pendekatan di dalam analisis hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi menggunakan beberapa model, baik yang langsung maupun tidak langsung menghubungkan indicator pendidikan dan indicator ekonomi, seperti model fungsi produksi. Hal inilah yang menyebabkan teori Human Capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat.
Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan dan pengetahuan untuk bekerja. Sebagian besar ahli ekonomi sepakat bahwa sumber daya manusia ( Human Resource) dari suatu bangsa sebagai penentu dalam percepatan pembangunan social dan ekonomi bangsa yang bersangkutan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Federick Harbison dalam dalam bukunya “ Sumber daya manusia merupakan modal dasar dari kekayaan suatu bangsa”. Usaha-usaha pendidikan termasuk di dalamnya usaha pengembangan pemberdayaan manusia merupakan human investment. Sekarang ini kebutuhan akan pendikan merupakan kebutuhan pokok, bahkan pemerintah telah menetapkan bahwa sejak tahun 1983 pendidikan merupakan keharusan. Argumen yang disampaikan para pendukung teori ini adalah manusia yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki pekerjaan dan upah yang lebih baik dibandingkan dengan pendidikannya yang lebih rendah. Apabila upaya mencerminkan produktivitas maka semakin banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi, semakin tinggi produktivitas dan hasil ekonomi nasional akan bertambah tinggi.Secara implisit, pendidikan memberikan kontribusi pada penggalian ilmu pengetahuan.ini sebenarnya tidak hanya diperoleh dari pendidikan,akan tetapi juga melalui penelitian dan pengembangan ide-ide,karena pada hakekatnya, pengetahuan yang sama sekali tidak dapat diimplmentasikan dalam kehidupan manusia dan mubazir.
Isu mengenai sumber daya manusia (human capital) sebagai input pembangunan ekonomi sebenarnya telah dimunculkan oleh Adam Smith pada tahun 1776, yang mencoba menjelaskan penyebab kesejahteraan suatu negara, dengan mengisolasi dua faktor, yaitu;
1)      Pentingnya skala ekonomi; dan
2)      Pembentukan keahlian dan kualitas manusia.
Faktor yang kedua inilah yang sampai saat ini telah menjadi isu utama tentang pentingnya pendidikan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah mempunyai peran aktif dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan agar SDM yang dihasilkan dapat menjadi sumber untuk pembangunan negara maupan daerah, dan salah satu usaha pemerintah untuk memajukan pendidikan yaitu dengan mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun. Hal ini diatur dalam undang-undang, yaitu Undang-Undang No. 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, tidak boleh ada drop out karena alasan biaya. Jika hal ini terjadi, pemerintah dinggap telah mengingkari amanat UU dan mengingkari tugas bangsa, karena dalam ketetapan pemerintah 20% dari APBN adalah untuk dialokasikan pada sektor pendidikan.
Hubungan investasi sumber daya manusia (pendidikan) dengan pertumbuhan ekonomi merupakan dua mata rantai. Namun demikian, pertumbuhan tidak akan bisa tumbuh dengan baik walaupun peningkatan mutu pendidikan atau mutu sumber daya manusia dilakukan, jika tidak ada program yang jelas tentang peningkatan mutu pendidikan dan program ekonomi yang jelas. Namun, sesungguhnya faktor teknologi dan modal fisik tidak independen dari faktor manusia. Suatu bangsa dapat mewujudkan kemajuan teknologi, termasuk ilmu pengetahuan dan manajemen, serta modal fisik seperti bangunan dan peralatan mesin-mesin hanya jika negara tersebut memiliki modal manusia yang kuat dan berkualitas. Apabila demikian, secara tidak langsung kontribusi faktor modal manusia dalam pertumbuhan penduduk seharusnya lebih tinggi dari angka 31 persen. Perhatian terhadap faktor manusia menjadi sentral akhir-akhir ini berkaitan dengan perkembangan dalam ilmu ekonomi pembangunan dan sosiologi.
Para ahli di kedua bidang tersebut umumnya sepakat pada satu hal yakni modal manusia berperan secara signifikan, bahkan lebih penting daripada faktor teknologi, dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Modal manusia tersebut tidak hanya menyangkut kuantitas, tetapi yang jauh lebih penting adalah dari segi kualitas. Karena itu, investasi di bidang pendidikan tidak saja berfaedah bagi perorangan, tetapi juga bagi komunitas bisnis dan masyarakat umum. Pencapaian pendidikan pada semua level niscaya akan meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan welfare dependency yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah. Lalu pertanyaannya, apakah ukuran yang dapat menentukan kualitas manusia? Ada berbagai aspek yang dapat menjelaskan hal ini seperti aspek kesehatan, pendidikan, kebebasan berbicara dan lain sebagainya.
Di antara berbagai aspek ini, pendidikan dianggap memiliki peranan paling penting dalam menentukan kualitas manusia. Lewat pendidikan, manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan, dan dengan pengetahuannya manusia diharapkan dapat membangun keberadaan hidupnya dengan lebih baik. Dari berbagai studi tersebut sangat jelas dapat disimpulkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi melalui berkembangnya kesempatan untuk meningkatkan kesehatan, pengetahuan, dan ketarmpilan, keahlian, serta wawasan mereka agar mampu lebih bekerja secara produktif, baik secara perorangan maupun kelompok. Implikasinya, semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas. Dalam kaitannya dengan perekonomian secara umum (nasional), semakin tinggi kualitas hidup suatu bangsa, semakin tinggi tingkat pertumbuhan dan kesejahteraan bangsa tersebut. Asumsi dasar dalam menilai kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kesenjangan adalah pendidikan dapat meningkatkan produktivitas pekerja Jika produktivitas kerja meningkat ,maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat pula.
Dengan kata lain,pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Namun demikian pada kenyataan tingkat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah 2% setiap tahunnya (world Bank : 1980).terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan, namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan jenis pekerjaan. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu, tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Terdapai berbagai macam factor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Di antara ukuran-ukuran tersebut,diantaranya:
a.       Pendapat perkapita
b.      Perubahan peta ketenaga kerjaan dari pertanian ke industri
c.       Komsumsi energi atau pemakaian kriteria untuk menilai keberhasilan             pembangunan
d.      Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan   GDP dan GNP
e.       Kepuasan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat , dan
f.       Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat , yang dikaitkan dengan penggunaan sumber daya yang terbatas. Walaupun sangat sulit untuk dicatat dalam dokumen statistik Todaro berkeyakinan bahwa kesempatan pendidikan dalam segala tingkatan, telah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui :
1.      Terciptanya angkat kerja yang lebih produktif karena bekal pengetahuan         dan keterampilan mereka yang lebih baik.
2.      Tersedianya kesempatan kerja yang lebih luas.
3.      Terciptanya suatu kelompok pimpinan yang terdidik untuk mengawasi lowongan jabatan di unit usaha, lembaga, perusahaan dan organisasi pemerintah/ swasta dan lain-lain.
4.      Tersedianya berbagai program pendidikan dan pelatihan.
 Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Di negara non-Industri, perekonomiannya sangat tergantung pada sector pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak di sector pertanian dan bekerja di sector non-industri. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang digunakan untuk kegiatan yang dapat memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Biaya suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan sumber daya manusia dalam berbagai kegiatan. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja diilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Sementara pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup ( Life long learning).
Oleh sebab itu hasil pendidikan akan menjadikan sumber daya manusia yang dapat berguna dalam pembangunan suatu negara. Investasi pendidikan memberikan nilai balik ( rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang llain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja. Di negara- negara berkembang umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan yang relative lebih tinggi dari pada investasi modal fisik. Investasi dalam Pendidikan dan Ekonomi Pendidikan memiliki daya dukung yang representative atas pertumbuhan ekonomi ekonomi, mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang yang kemudian akan meningkatkan perdapatannya.
Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula pada pendapatan nasional negara yang bersangkutan yang keudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Sementara itu Johanes ( 1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ia melihat bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial dan menjadi lebih siap dan terlatih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja yang secara langsung akan meningkatkan pendapatan nasional. Pendidikan dan pekerjaan merupakan ukuran yang paling popular dalam melihat kontribusi pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.
Pemikiran ini berdasarkan pada anggapan bwhwa pendidikan merupakan Human Capital. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masyarakat modern. Argumen ini memiliki dua aspek yaitu:
a.       Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern.
b.      Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Sebagai ilustrasi meningkatnya tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif yaitu mengingatkan gaji pekerja golongan ini.
1.      Analisis Biaya dan Manfaat Pendidikan
Pengertian Biaya Pendidikan Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya. Pengertian biaya dalam ekonomi adalah pengorbanan-pengorbanan yang dinyatakan dalam bentuk uang, diberikan secara rasional, melekat pada proses produksi, dan tidak dapat dihindarkan. Bila tidak demikian, maka pengeluaran tersebut dikategorikan sebagai pemborosan. Dan biaya pendidikan menurut Prof. Dr. Dedi Supriadi, merupakan salah satu komponen instrumental (instrumental- input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan (di sekolah). Biaya dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas, yakni semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga.
Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponennya, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaanya, akuntabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan, sehingga diperlukan studi khusus untuk lebih spesifik mengenal pembiayaan pendidikan ini.
Nanang Fattah menambahkan biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost). Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa seperti pembelian alat-alat pembelajaran, penyediaan sarana pembelajaran, biaya transportasi, gaji guru, baik yang dikeluarkan pemerintah, orang tua maupun siswa sendiri. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang yang dikorbankan oleh siswa selama belajar, contohnya, uang jajan siswa, pembelian peralatan sekolah (pulpen, tas, buku tulis,dll).
Analisis biaya manfaat merupakan metodologi yang banyak digunakan dalam melakukan analisis investasi pendidikan. Metode ini dapat membantu para pengambil keputusan dalam menentukan pilihan diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas tetapi memberikan keuntungan yang tinggi. Dalam konsep dasar pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji atau dianalisis, yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan (total cost) dan biaya satuan per siswa (unit cost). Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan Aggregate biaya pendidikan tingkat sekolah baik yang bersumber dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat yang dikerluarkan untuk menyelenggarakan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Biaya satuan per-murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh pendidikan.
Oleh karena biaya satuan ini diperoleh dengan memperhitungkan jumlah murid pada masing-masing sekolah, maka ukuran biaya satuan dianggap standar dan dapat dibandingkan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Analisis mengenai biaya satuan dalam kaitannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya dapat dilakukan dengan menggunakan sekolah sebagai unit analisis. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan kita untuk mengetahui efisiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah, keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat, pemerintah untuk pendidikan.
Disamping itu, juga dapat menjadi penilaian bagaimana alternatif kebijakan dalam upaya perbaikan atau peningkatan sistem pendidikan. Komponen Biaya Pendidikan meliputi:
a)      Peningkatan KBM
b)      Pembinaan tenaga kependidikan
c)      Pengadaan alat-alat belajar
d)     Pengadaan bahan pelajaran
e)      Sarana kelas
f)       Sarana sekolah
g)      Pembinaan siswa
h)      Pengelolaan sekolah
i)        Pemeliharaan dan penggantian sarana dan prasarana pendidikan
j)        Biaya pembinaan, pemantauan, pengawasan dan pelaporan.
k)      Peningkatan mutu pada semua jenis dan jenjang pendidikan;
l)         Peningkatan kemampuan dalam menguasai iptek.
m)    Peningkatan pembinaan kegiatan siswa
Sumber-sumber dana pendidikan antara lain meliputi: Anggaran rutin (DIK); Anggaran pembangunan (DIP); Dana Penunjang Pendidikan (DPP); Dana BP3; Donatur; dan lain-lain yang dianggap sah oleh semua pihak yang terkait. Pendanaan pendidikan pada dasarnya bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat (pasal 33 No. 2 tahun 1989). Sejalan dengan adanya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sekolah dapat menggali dan mencari sumber-sumber dana dari pihak masyarakat, baik secara perorangan maupun secara melembaga, baik di dalam maupun di luar negeri, sejalan dengan semangat globalisasi. Dana yang diperoleh dari berbagai sumber itu perlu digunakan untuk kepentingan sekolah, khususnya kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien. Sehubungan dengan itu, setiap perolehan dana, pengeluarannya harus didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang telah disesuaikan dengan rencana anggaran pembiayaan sekolah (RAPBS). D.
Analisis Manfaat Biaya Setelah memahami bentuk biaya, tujuan dari analisis biaya adalah untuk memberikan kemudahan, memberikan informasi pada para pengambil keputusan untuk menentukan langkah/cara dalam pembuatan kebijakan sekolah, guna mencapai efektivitas maupun efisiensi pengolahan dana pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan. Secara khusus, analisis manfaat biaya pendidikan bagi pemerintah menjadi acuan untuk menetapkan anggaran pendidikan dalam RAPBN, dan juga sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas SDM dengan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sedangkan bagi masyarakat, analisis manfaat biaya pendidikan ini berguna sebagai dasar/pijakan dalam melakukan ”investasi” di dunia pendidikan. Hal ini dirasakan penting untuk diketahui dan dipelajari, karena menurut sebagian masyarakat pendidikan hanya menghabis-habiskan uang tanpa ada jaminan/prospek peningkatan hidup yang jelas dimasa yang akan datang.
Sedangkan dalam ilmu sosiologi, secara harfiah atau etimologi (definisi nominal), Sosiologi berasal dari bahasa Latin: Socius = teman, kawan, sahabat, dan logos = ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut terminologi, definisi Sosiologi berdasarkan para pakar adalah sebagai berikut:
1)      Sosiologi adalah studi tentang hubungan antara manusia (human relationship). (Alvin Bertrand)
2)      Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis. (Mayor Polak)
3)      Sosiologi adalah ilmu masyarakat umum. (P.J. Bouwman)
4)      Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. (Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi).
Jadi kami selaku pemakalah dapat menyimpulkan bahwa sosiologi itu adalah suatu ilmu yang mempelajari suatu interaksi seseorang dengan orang lain dan lingkungan masyarakat. Sekarang bagaimana dengan pengertian sosiologi pendidikan itu sendiri?
Mengenai pertanyaan diatas ada dua pendapat, yaitu:
a)      Menurut Prof. Dr. S. Nasution, MA. Mengatakan bahwa memberikan definisi sosiologi pendidikan tidak mudah. Para ahli pendidikan dan ahli sosiologi telah berusaha untuk memberikan definisi sosiologi pendidikan, namun definisi-definisi itu kebanyakan tidak terpakai oleh orang lapangan. Kesukaran untuk memperoleh definisi yang mantap tentang sosiologi pendidikan antara lain disebabkan:
Ø  Sukarnya membatasi bidang studi di antara bidang pendidikan dan bidang sosiologi.
Ø  Kurangnya penelitian dalam bidang ini, dan
Ø  Belum nyatanya sumbangannya kepada pendidikan umumnya dan pendidikan guru khususnya.
b)      Pendapat yang kedua, para ahli memberikan pengertiannya, yaitu:
1)      Menurut F.G. Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengantata sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural, proses perkembangan kepribadian,dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan.[7]
2)      Menurut H.P. Fairchild dalam bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology.
3)      Menurut Prof. DR S. Nasution,M.A., Sosiologi Pendidikana dalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.
4)      Menurut F.G Robbins dan Brown, Sosiologi Pendidikan ialah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalaman. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
5)      Menurut E.G Payne, Sosiologi Pendidikan ialah studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan.
6)      Menurut Drs. Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis.
Dari beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
Arti penting psikologi dalam dunia pendidikan karena itu merupakan keharusan yang tak bisa ditawar-tawar bagi setiap pendidik yang kompeten dan profesional adalah melaksanakan profesinya sesuai dengan keadaan peserta didik. Para ahli psikologi dan pendidikan pada umumnya bekeyakinan bahwa dua orang anak(yang kembar sekalipun) tak pernah memiliki respon yang sama persis terhadap situasi belajar mengajar disekolah. Keduanya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan, kematangan jasmani, intelegensi, dan keterampilannya.
Dalam interaksi antar individu ini baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa lainnya, terjadi proses dan peristiwa psikologis. Peristiwa dan proses psikologis ini sangat perlu untuk dipahami dan dijadikan landasan oleh para guru dalam memperlakukan para siswa secara tepat.
Beerling mengatakan bahwa orang Yunani yang mula-mula sekali berfilsafat di barat mengatakan  bahwa filsafat yang timbul karena ketakjuban. Ketakjuban menyaksikan keindahan dan kerahasiaan alam semesta ini lantas menimbulkan keinginan mengetahuinya. Plato mengatakan bahwa filsafat di mulai dari ketakjuban. Sikap heran atau takjub itu akan lahir dalam bentuk bertanya. Pertanyaan itu memerlukan jawaban. Bila pemikit menemukan jawaban, jawaban itu dipertanyakan lagi karena ia swlalu sangsi pada kebenaran yang ditemukannnya. Patrick mulder mengatakan manakala kebenaran mereka menjadi serius dan penyelidikan menjadi sistematis, mereka menjadi filosof. Disini dapat kita ambi pelajaran bahsannya rasa keingintahuan kita dalam keseharian terlebih dalam dunia pendidikan, jika kita akan amati itulah proses dalam dunia pendidikan, yang asalnya tidak tahu menjadi tahu
Sedangkan dalam ilmu antropologi, Pengertian Antropologi = Anthropologi berasal dari kata Yunani  anthropos yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal"). Anthropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Antropologi secara garis besar dipecah menjadi 2 bagian, yaitu antropologi fisik/biologi dan antropologi budaya. Tetapi dalam pecahan antropologi budaya, terpecah – pecah lagi menjadi banyak sehingga menjadi spesialisasi – spesialisasi, termasuk Antropologi Pendidikan. Seperti halnya kajian antropologi pada umumnya, antropologi pendidikan berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam rangka memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia khususnya dalam dunia pendidikan. Studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi termuda dalam antropologi
Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran, pemberian pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran, karakter serta kapasitas fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan yang ingin dicapai dapat dipenuhi. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan berubah cepat, pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
Dengan makin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini pendidik dan antropolog harus saling bekerja sama, dimana keduanya sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. Pendidikan bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehinga dapat menyesuaikan diri pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan diluar kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap kebudayaan.
G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan antropologi terhadap pendidikan adalah menghimpun sejumlah pengetahuan empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek proses pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan social budayanya. Teori khusus dan percobaan yang terpisah tidak akan menghasilkan disiplin antropologi pendidikan. Pada dasarnya, antropologi pendidikan mestilah merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam prespektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropolog terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan.(Imran Manan, 1989)
Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan maka antropologi bermanfaat bagi pendidikan. Hal ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat bersifat unik dan sukar untuk dibandingkan. Setiap penyelidikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi pendidikan.
Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam prespektif budaya, sehingga antropolog menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing masyarakat. Namun ada kalanya sejumlah metode mengajar kurang efektif dari media pendidikan sehingga sangat berlawanan dengan data yang didapat di lapangan oleh para antropolog. Tugas para pendidik bukan hanya mengeksploitasi nilai kebudayaan namun menatanya dan menghubungkannya dengan pemikiran dan praktek pendidikan sebagai satu keseluruhan.
Anthropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan anthropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode anthropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan dan penjelasan yang singkat tentang keterkaitan ilmu bantu dalam dunia pendidikan, yang diantaranya ada ilmu sosial, politik, antropologi, manejemen, psikologi dan filsafat. Dan semua ilmu-ilmu bantu ini sangat membantu dalam proses pendidikan baik yang dilakukan secara formal(di sekolah-sekolah), maupun pendidikan yang sifatnya non-formal yang berada di luar sekolah, pada dasarnya yang namanya ilmu pendidikan itu dapat dilakukan manusia dengan cara mengamati dan memahami apa perkembangan yang ada di muka bumi ini, mungkin dapat dikatakan ilmu pendidikan itu bersifat ilmiah ataupun bersifat rekayasa.
Sedangkan dalam filosofi dasar ilmu pendidikan ialah, bahwasanya ilmu pendidikan merupakan kebanyakan ilmu lainnya, ia lahir dari ilmu filsafat, sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pada awalnya pendidikan berada bersama dengan filsafat, sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dari pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh maunusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia. Sebagaimana cabang ilmu lainnya pendidikan merupakan cabang dari filsafat.
Dalam kaitannnya ilmu-ilmu pendidikan dengan ilmu lain seperti, ilmu ekonomi, dalam dunia pendidikan tidak terlepas adanya ilmu ekonomi yang terlibat di dalamnya, karena adanya infrastruktur dan lain sebagainya, perkembangan kualitas dan prestasi sebuah lembaga pendidikan dapat juga dilihat dari infrastruktur yang ada didalamnya, meskipun itu bukan merupakan hal yang essensial dalam menentukan prestasi sebuah lembaga.





B.     Kata Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Disini kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak adanya kekurangan yang membutuhkan penyempurnaan. Oleh karena itu kami minta maaf dan sangat membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Dan semoga makalah ini menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002
Benny Susetyo, Politik Pendidikan Penguasa, Yogyakarta: Lkis, 2005
Fatah Syukur, Manejemen Pendidikan Berbasis pada Madrasah, Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2011
Kahar Utsman,  Sosiologi Pendidikan,  Kudus:Buku Daros,  2009
Kisbiyanto, Ilmu Pendidikan, Kudus: Nora Art, Kudus, 2010
Mahmud, Psikologi  Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2010


[1] Kisbiyanto, Ilmu Pendidikan,  Kudus: Nora Art, 2010,  hal. 19
[2] Mahmud,  Psikologi  Pendidikan,  Bandung: Pustaka Setia,  2010,  hal. 24
[3] Fatah Syukur ,  Manejemen Pendidikan Berbasis Pada Madrasah, Semarang: PT  Pustaka Rizki Putra,  2011,  hal. 27-28.
[4] Benny Susetyo,  Politik  Pendidikan  Penguasa,  Yogyakarta:  Lkis,  2005,  hal.  36
                [5] Ahmad  Tafsir,  Filsafat Umum Akal dan  Hati Sejak Thales  sampai Capra, Bandung: Remaja Rosada karya, 2002 , hal. 16
[6]Ibid, hal.  18-20
[7] Kahar Utsman,  Sosiologi Pendidikan,  Kudus:Buku Daros,  2009,  hal.3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar