STUDI KASUS TENTANG
RASA TAKUT BERLEBIHAN PADA (PHOBIA)
MAKALAH
Diususun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Islam
Dosen Pengampu : Fatma Laili
Khoirun Nida, S. Ag, M. Si
Disusun Oleh:
NANIK SETIYANI :112245
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
KUDUS
JURUSAN TARBIYAH / PAI
TAHUN 2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Espresi manusia telah diidentifikasi oleh para pakar
psikologi kedalam emosi dasar yaitu meliputi emosi senang, marah, sedih, takut,
benci, heran dan kaget. [1]Ketakutan
adalah emosi yang muncul pada saat orang menghadapi suatu ancaman yang
membahayakan hidup atau salah satu bidang kehidupan tertentu. Ketakutan biasa
disebut dengan tanda peringatan terhadap hidup, peringatan agar berhenti,
melihat atau mendengarkan.Setiap manusia dihadapkan pada peringatan serta
ancaman yang sangat menuntut perhatian.
Rasa takut betul-betul memperlambat dan
mengendalikan sejumlah besar emosi psikosomatis. Salah satu tujuan dari
pengendalian adalah untuk membantu seseorang untuk menghindarkan diri dari
bahaya dan mengatasinya. Bila seseorang diliputi rasa takut, kebahagiaan maupun
kesuksesan kita terancam, orang itu sering mengalami rasa nyeri pada perut,
telapak tangan berkeringat, jantung berdenyut kencang, malas bergerak, gagap
bicara dan lain sebagainya.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita
jumpai seseorang yang mempunyai rasa takut yang sangat berlebihan ketika
melihat atau berhadapan dengan sesuatu. Bahkan mungkin karena ketakutan yang
sangat mendalam orang itu akan mengalami atau melakukan hal-hal yang tidak
disadarinya. Seperti lari terbirit-birit atau bisa juga sebaliknya semua
anggota tubuhnya terasa sangat lemas bahkan ada yang sampai pingsan. Rasa takut
yang demikianlah yang sering orang sebut dengan “phobia”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
Contoh Kasus Riil Tentang Takut yang
Berlebihan (Phobia)?
2. Bagaimana
Landasan Teori Tentang Phobia?
3. Bagaimana
Analisis Tentang Kasus Phobia?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Contoh Kasus Riil Tentang Takut yang Berlebihan/Phobia
Takut adalah perasaan yang sangat
mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari
kontak dengan hal itu. Bentuk ut “phobia”.[2]
Phobia merupakan rasa takut yang
berlebih-lebihan dan berkepanjangan karena rasa takut yang sangat tidak
rasional. Phobia kebanyakan dialami oleh perempuan meskipun para laki-laki pun
juga ada yang mengalami phobia. Banyak sekali jenis dari phobia, diantaranya:
Acrophobia / Hypsophobia; Ketakutan pada tempat yang tinggi, Antlophobia;
Ketakutan pada sungai, banjir atau air yang mengalir, Amaxophobia; Ketakutan
berkendaraan, Agyophobia: Ketakutan akan jalan yang ramai dan cenderung takut
untuk menyeberang, Hydrophobia / Iyssophobia: Takut pada air, insectaphobia;
takut pada insecta.
Biasanya orang yang menderita phobia, ketika
dia menemukan atau berjumpa dengan hal yang ditakutinya maka akan berteriak
sekeras mungkin, berlari, mencari perlindungan kepada orang lain, menangis,
bahkan ada juga yang pingsan.
Seperti contoh, sebut saja namanya Dian.
Dian adalah salah seorang yang mempunyai rasa takut yang sangat berlebihan
terhadap kucing., mendengar kata kucing saja dia sudah reflek memegang erat
seseorang yang ada disampingnya, pernah suatu ketika dia sampai pingsan karena
saat ulang tahun yang pada saat itu temannya tidak mengetahui kalau dian takut
dengan kucing dan memberinya kado sebuah boneka berbentuk kucing, ketika dibuka
seketika itu dia melempar boneka tersebut dan menangis histeris dan tidak lama
kemudian dia pingsan. Hal semacam itu yang mungkin sering disebut phobia.
B. Landasan Teori
Seringkali seseorang menyebut dirinya
phobia terhadap sesuatu yang ia takuti sehingga kata-kata “phobia” menjadi
populer di pergaulan kita sehari-hari. Namun apakah Rasa Takut itu adalah
Phobia? Apakah kita takut terhadap ular lantas kita menyebut phobia ular?
Apakah kita takut terhadap buaya lalu kita menyebut orang yang phobia buaya?
Penulis yakin semua orang takut jika bertemu buaya, kecuali pawang buaya. Atau
seperti contoh diatas apakah bias disebut phobia?
Phobia adalah rasa taku yang irasional,
berlebihan dan bersifat terus-menerus terhadap sesuatu atau situasi. Emosi
takut adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh setiap orang. Emosi ini
sebenarnya positif karena mempunyai makna antisipatif terhadap sesuatu yang
terjadi di masa depan. Dan menurut Dadang Hawari, phobia adalah ketakutan yang
menetap dan tidak rasional terhadap objek aktifitas atau situasi tertentu, yang
menimbulkan suatu keinginan mendesak untuk menghindarinya. Rasa ketakutan ini
disadari oleh orang yang bersangkutan sebagai suatu ketakutan yang berlebihan
dan tidak masuk akal , namun ia tak mampu mengatasinya.[3]
1. Jenis
– jenis Phobia pada Anak
Rasa takut yang dialami oleh anak sesungguhnya bervariasi. Cara mengatasinya pun mesti
disesuaikan. Sumber-sumber rasa takut secara garis besar dipilih berdasarkan
sumber rasa takut yang sifatnya subjektif dan objektif.
Rasa
takut yang muncul pada diri anak mempunyai dua sisi. Pertama sisi positif, rasa
takut menyebabkan seseorang melindungi dirinya dari ancaman luar. Contohnya
takut pada harimau. Ketakutan pada harimau itu merupakan suatu mekanisme
pertahanan diriuntuk tidak mendekati harimau, yang kapan saja siap menerkamnya.
Kedua
sisi negative, rasa takut menyebabkan seseorang memiliki perasaan-perasaan
menegangkan yang membuatnya tidak nyaman. Contohnya katakutan terhadap harimau
itu dibawa sampai ke bawah alam sadarnya, yang mungkin akan membuatnya menjadi
obsesif untuk membunuh semua harimau dihutan.
Setiap orang dapat mengalami berbagai perasaan
takut, dan diantaranya wajar dialami oleh anak. Namun jika rasa takut itu
terbawa dalam tahap-tahap anak selanjutnya, rasa takut itu akan berdampak buruk
bagi anak, baik dari segi sensori motorik, perkembangan kognitif, sampai
perkembangan sosialnya. Secara umun, ada dua jenis phobia yang sering dialami
oleh anak:
a) Benda-benda
yang secara objektif menimbulkan ketakutan. Biasanya bisa didengar, dilihat dan
dirasakan.
b) Hal-hal
yang subjektif, yaitu perasaan dan sifat yang menyebabkan ketakutan.[4]
Ketakutan pada anak juga dapat menimbulkan
kecemasan. Pada situasi tertentu, kecemasan hamper sama dengan ketakutan dan
merupakan ketakutan yang pada taraf ringan. Tetapi, sebenarnya ketakutan dan
kecemasan adalah suatu hal yang berbeda. Ketakutan disebabkan oleh suatu objek
atau situasi tertentu, sedangkan kecemasan terjadi tanpa suatu alas an yang
jelas, atau disebabkan oleh situasi yang sebenarnya tidak menakutkan. Kecemasan
dapat mencakup semua tingkatan
pengalaman yang terletak antara ketenangan dan ketakutan juga bisa
diungkapkan sebagai respon emosional yang tidak menyenangkan dan dalam tingkat
yang belebihan.[5]
Mereka yang berlebihan biasanya menampakkan
tanda-tanda mukanya merah, pupil mata melebar, menggerakkan otot-otot muka,
gelisah, beraktifitas berlebihan, menggigit benda-benda yang ada disekitarnaya,
ngompol, dll. Pola kepribadian dasar seseorang terbentuk pada tahun-tahun
pertama kehidupan. Adanya pengalaman-pengalaman kurang menguntungkan yang
menimpa anakpada masa mudanya akan mudah timbulnya masalah gangguan penyesuaian
diri kelaak di kemudian hari.
Pada masa sekolah anak membandingkan dirinya dengan
teman-temannya dimana ia mudah sekali dihinggapi rasa ketakutan akan kegagalan
dan ejekan temannya. Bila pada masa ini ia sering gagal dan merasa cemas akan
tumbuh rasa tidak percaya diri dan akhirnya akan timbul phobia sekolah atau
phobia social.
Setiap anak merespon rasa takutnya secara
berbeda-beda. Sebagian anak secara terbuka dengan rasa takutnya sedangkan anak
lain menunjukkan ketakutan dan kegelisaan pada perilaku mereka. Contoh:
menyangkal adanya masalah ( biasa terjadi pada anak laki-laki) menjadi atau
nampak bebas bermain lebih agresif, seringkali menciptakan ulang rasa traumatic
saat bermain, menghindari situasi baru, mengembangkan gejala tubuh seperti
nyeri, sakit, atau gangguan tidur dan nafsu makan.
2. Sebab-sebab
Phobia pada Anak
Secara umum anak mengalami ketakutan dan factor
penyebabnya sebagai berikut:
a) Intelegensi
Anak
yang cepat dewasa memiliki ciri khas rasa takut yang dimiliki oleh anak-anak
pada tingkat usia yang lebih tua dan anak yang terbelakang mentalnya mempunyai
ciri khas rasa takut seperti yang dimiliki oleh anak pada tingkat usia yang
lebih muda.
b) Jenis
kelamin
Pada
semua tingkat usia dan ditinjau sebagai suatu kelompok, anak-anak perempuan
sering memperlihatkan ketakutan lebih banyak dibandingkan dengan anak laki-laki
Disamping itu ketakutan anak perempuan kepada objek tertentu. Seperti ular dan
binatang kecil lebih diterima secara social.
c) Status
Sosial Ekonomi
Anak-anak
dari keluarga berstatus sosial ekonomi rendah pada semua tingkat usia mempunyai
ketakutan yang lebih banyak disbanding anak-anak dari keluarga kelas menengan
keatas. Mereka terutama takut pada kekerasan, yang merupakan hal yang tidak
terlalu ditakuti anak dari keluarga kelas menengah keatas.
d) Kondisi
Fisik
Jika
anak-anak dalam keadaan letih lapar dan kurang sehat, mereka bereaksi dengan
ketakutan yang lebih besar dibandingkan dengan keadaan yang normal, dan mereka
lebih mudah takut terhadap berbagai macam siituasi yang dalam keadaan normal
tidak menimbulkan rasa takut.
e) Hubungan
Sosial
Berada
bersama anak lain yang merasa takut juga menimbulkan rasa takut. Jika individu
didalam kelompok bertambah maka ketakutan akan dirasakan bersama dan jumlah
rasa takut setiap anak akan bertanbah.
f) Urutan
Kelahiran
Anak
pertama lebih venderung mempunyai ketakutan yang lebih banyak dibandingkan
dengan nak yang lahir kemudian, karena mereka dibayangi sikap orang tua yang terlalu melindungi. Semakin banyak anak
yang lebih muda berhubungan dengan kakak mereka semakin banyak ketakutan yang
mereka alami.
g) Kepribadian
Anak
yang emosinya tidak tentram cenderung lebih mudah merasa takut dibandingkan
dengan anak yang tentram. Anak yang berkepribadian ekstrovet belajar rasa takut
lebih banyak dengan cara menirukan orang lain dibandingkan anak yang
berkepribadian introvet.
Rasa
takut yang berlebihan ini dapat disembuhkan dengan cara hipnoterapi dalam
psikoterapi Islam. Dalam proses hipnoterapi ada unsur relaksasi dimana proses
ini bisa diiringi dengan berdo’a dan berdzikir . ketika dalam keadaan relaksasi
otak menampakkan gelombang alfa dimana kondisinya dalam keadaan rileks, tetapi
siaga dalam melakukan sesuatu. Dzikir itu dapat menjadi slah satu frasa focus
dalam roses penyembuhan diri dari kecemasan dan ketakutan. Frasa ini kemudian
dikombinasikan denganrespon relaksasi. Seperti firman Allah Q.S Ara’d 28:
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% Ìø.ÉÎ/ «!$# 3 wr& Ìò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ
Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram”.
C. Analisis Tentang Kasus Phobia
Dari kasus tersebut dapat saya analisis
bahwa orang yang mempunyai rasa takut yang berlebihan di dalam Islam tidak diperbolehkan
karena pada dasarnya kita hanya boleh takut kepada Allah SWT. Umumnya seorang
yang memiliki sifat phobia itu memiliki ekspresi yang berlebihan yakni seperti
berteriaka dengan keras, menjerit-jerit berteriak sekeras mungkin, berlari,
mencari perlindungan kepada orang lain, menangis, bahkan ada juga yang pingsan.
Rasa takut ini adalah salah satu bentuk
manifestasi dari emosi yang tidak stabil. faktor yang mempengaruhi kestabilan
emosi itu terletak pada diri individu itu sendiri, yaitu factor keimanan pada
Allah SWT. Individu yang benar-benar beriman hanya takut pada Allah saja, ia
tidak takut mati ataupun musibah. Individu akan bisa mengendalikan amarahnya,
menahan kesedihan, selain itu mempunyai sikap merendahkan diri. Orang yang
selalu ingat akan mati dia akan selalu melakukan perbuatan kebajikan baik
kepada Allah ataupun kepada sesama manusia {Hablum Minallah Wa Hablum
Mmannas i) sebab individu punya keyakinan bahwa segala amal perbuatan akan
ada balasanya dihadapan Tuhan dihari pembalasan kelak. Juga orang yang stabil
emosinya bila tertimpa suatu musibah dia akan mengatakan bahwa semua berasal
dari Allah dan akan kembali kepada-Nya pula {Innalillahi Wa Innailaihi
Roji'un)., dan individu akan menyerahkan segala urusanya hanya kepada Tuhan
setelah individu berusaha dengan sungguh-sungguh.
Faktor lain yang menyebabkan emosi
stabil adalah lewat pemahaman terhadap makna A1 Quran. Orang yang memahami
makna A1 Quran akan teijadi proses kontrol diri {self control) yang
kuat, menggelorakan perasaan, kemantapan diri, menggugah kesadaran {self
consciousness) dan proses pembelajaran atau menajamkan wawasan.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
. Dian adalah salah seorang yang
mempunyai rasa takut yang sangat berlebihan terhadap kucing., mendengar kata
kucing saja dia sudah reflek memegang erat seseorang yang ada disampingnya,
pernah suatu ketika dia sampai pingsan karena saat ulang tahun yang pada saat
itu temannya tidak mengetahui kalau dian takut dengan kucing dan memberinya
kado sebuah boneka berbentuk kucing, ketika dibuka seketika itu dia melempar
boneka tersebut dan menangis histeris dan tidak lama kemudian dia pingsan. Hal
semacam itu yang mungkin sering disebut phobia.
Phobia adalah
rasa taku yang irasional, berlebihan dan bersifat terus-menerus terhadap
sesuatu atau situasi. Emosi takut adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh
setiap orang. Emosi ini sebenarnya positif karena mempunyai makna antisipatif
terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan. Dan menurut Dadang Hawari, phobia
adalah ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap objek aktifitas atau
situasi tertentu, yang menimbulkan suatu keinginan mendesak untuk
menghindarinya. Rasa ketakutan ini disadari oleh orang yang bersangkutan
sebagai suatu ketakutan yang berlebihan dan tidak masuk akal , namun ia tak
mampu mengatasinya
Rasa
takut ini adalah salah satu bentuk manifestasi dari emosi yang tidak stabil.
faktor yang mempengaruhi kestabilan emosi itu terletak pada diri individu itu
sendiri, yaitu factor keimanan pada Allah SWT. Individu yang benar-benar
beriman hanya takut pada Allah saja, ia tidak takut mati ataupun musibah.
Individu akan bisa mengendalikan amarahnya, menahan kesedihan, selain itu
mempunyai sikap merendahkan diri.
B. Kata Penutup
Demikianlah
makalah yang dapat kami susun. Dalam makalah ini kami menyadari masih banyak
kekurangan yang membutuhkan penyempurnaan, Oleh karena itu kami mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca untuk memperbaiki penulisan
makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini memberi manfaat dan menambah
wawasan bagi pembaca. Amin..
DAFTAR
PUSTAKA
Karen
Diana, Mendampingi Anak Menghadai Rasa Takut, Yogyakarta: Kanisisius,
2008
Hawari Dadang,
Al-Qur’an Ilmu kedokteran Jiwa dan kesehatan Jiwa, yogjakarta: PT Dana
Bhakti Prima Yoso, 1997
Hude
Darwis, Emosi Khazanah Kajian Al Qur’an, Jakarta: Erlangga, 2006
Shaleh
Abdur Rahman dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar, Jakarta:
Prenada Media, 2004
[1] Darwis Hude, Emosi Khazanah Kajian Al Qur’an,
Jakarta: Erlangga, 2006, hal. 137
[2] Abdur Rahman Shaleh dan Muhbib
Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar, Jakarta: Prenada Media, 2004,
hal. 175-176
[3]
Dadang Hawari, Al-Qur’an Ilmu kedokteran Jiwa dan
kesehatan Jiwa, yogjakarta: PT Dana Bhakti Prima Yoso, 1997, hal. 64
[4]
Karen Diana, Mendampingi
Anak Menghadai Rasa Takut, Yogyakarta: Kanisisius, 2008, hal. 19
[5] Ibid, hal. 22