hujan salju

Senin, 24 Maret 2014

Studi Kasus Rasa takut berlebihan


STUDI KASUS TENTANG RASA TAKUT BERLEBIHAN PADA (PHOBIA)

MAKALAH
Diususun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Islam
Dosen Pengampu : Fatma Laili Khoirun Nida, S. Ag, M. Si
                           

 












Disusun Oleh:

NANIK SETIYANI    :112245

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH / PAI
TAHUN 2013
 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Espresi manusia telah diidentifikasi oleh para pakar psikologi kedalam emosi dasar yaitu meliputi emosi senang, marah, sedih, takut, benci, heran dan kaget. [1]Ketakutan adalah emosi yang muncul pada saat orang menghadapi suatu ancaman yang membahayakan hidup atau salah satu bidang kehidupan tertentu. Ketakutan biasa disebut dengan tanda peringatan terhadap hidup, peringatan agar berhenti, melihat atau mendengarkan.Setiap manusia dihadapkan pada peringatan serta ancaman yang sangat menuntut perhatian.
Rasa takut betul-betul memperlambat dan mengendalikan sejumlah besar emosi psikosomatis. Salah satu tujuan dari pengendalian adalah untuk membantu seseorang untuk menghindarkan diri dari bahaya dan mengatasinya. Bila seseorang diliputi rasa takut, kebahagiaan maupun kesuksesan kita terancam, orang itu sering mengalami rasa nyeri pada perut, telapak tangan berkeringat, jantung berdenyut kencang, malas bergerak, gagap bicara dan lain sebagainya.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita jumpai seseorang yang mempunyai rasa takut yang sangat berlebihan ketika melihat atau berhadapan dengan sesuatu. Bahkan mungkin karena ketakutan yang sangat mendalam orang itu akan mengalami atau melakukan hal-hal yang tidak disadarinya. Seperti lari terbirit-birit atau bisa juga sebaliknya semua anggota tubuhnya terasa sangat lemas bahkan ada yang sampai pingsan. Rasa takut yang demikianlah yang sering orang sebut dengan “phobia”.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Contoh Kasus Riil Tentang  Takut yang Berlebihan (Phobia)?
2.      Bagaimana Landasan Teori Tentang Phobia?
3.      Bagaimana Analisis Tentang Kasus Phobia?

 BAB II
PEMBAHASAN
A.    Contoh Kasus Riil Tentang  Takut yang Berlebihan/Phobia
Takut adalah perasaan yang sangat mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu. Bentuk ut “phobia”.[2]
Phobia merupakan rasa takut yang berlebih-lebihan dan berkepanjangan karena rasa takut yang sangat tidak rasional. Phobia kebanyakan dialami oleh perempuan meskipun para laki-laki pun juga ada yang mengalami phobia. Banyak sekali jenis dari phobia, diantaranya: Acrophobia / Hypsophobia; Ketakutan pada tempat yang tinggi, Antlophobia; Ketakutan pada sungai, banjir atau air yang mengalir, Amaxophobia; Ketakutan berkendaraan, Agyophobia: Ketakutan akan jalan yang ramai dan cenderung takut untuk menyeberang, Hydrophobia / Iyssophobia: Takut pada air, insectaphobia; takut pada insecta.
Biasanya orang yang menderita phobia, ketika dia menemukan atau berjumpa dengan hal yang ditakutinya maka akan berteriak sekeras mungkin, berlari, mencari perlindungan kepada orang lain, menangis, bahkan ada juga yang pingsan.
Seperti contoh, sebut saja namanya Dian. Dian adalah salah seorang yang mempunyai rasa takut yang sangat berlebihan terhadap kucing., mendengar kata kucing saja dia sudah reflek memegang erat seseorang yang ada disampingnya, pernah suatu ketika dia sampai pingsan karena saat ulang tahun yang pada saat itu temannya tidak mengetahui kalau dian takut dengan kucing dan memberinya kado sebuah boneka berbentuk kucing, ketika dibuka seketika itu dia melempar boneka tersebut dan menangis histeris dan tidak lama kemudian dia pingsan. Hal semacam itu yang mungkin sering disebut phobia.
B.     Landasan Teori
Seringkali seseorang menyebut dirinya phobia terhadap sesuatu yang ia takuti sehingga kata-kata “phobia” menjadi populer di pergaulan kita sehari-hari. Namun apakah Rasa Takut itu adalah Phobia? Apakah kita takut terhadap ular lantas kita menyebut phobia ular? Apakah kita takut terhadap buaya lalu kita menyebut orang yang phobia buaya? Penulis yakin semua orang takut jika bertemu buaya, kecuali pawang buaya. Atau seperti contoh diatas apakah bias disebut phobia?
Phobia adalah rasa taku yang irasional, berlebihan dan bersifat terus-menerus terhadap sesuatu atau situasi. Emosi takut adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh setiap orang. Emosi ini sebenarnya positif karena mempunyai makna antisipatif terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan. Dan menurut Dadang Hawari, phobia adalah ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap objek aktifitas atau situasi tertentu, yang menimbulkan suatu keinginan mendesak untuk menghindarinya. Rasa ketakutan ini disadari oleh orang yang bersangkutan sebagai suatu ketakutan yang berlebihan dan tidak masuk akal , namun ia tak mampu mengatasinya.[3]
1.      Jenis – jenis Phobia pada Anak
 Rasa takut yang dialami oleh anak sesungguhnya bervariasi. Cara mengatasinya pun mesti disesuaikan. Sumber-sumber rasa takut secara garis besar dipilih berdasarkan sumber rasa takut yang sifatnya subjektif dan objektif.
            Rasa takut yang muncul pada diri anak mempunyai dua sisi. Pertama sisi positif, rasa takut menyebabkan seseorang melindungi dirinya dari ancaman luar. Contohnya takut pada harimau. Ketakutan pada harimau itu merupakan suatu mekanisme pertahanan diriuntuk tidak mendekati harimau, yang kapan saja siap menerkamnya. Kedua sisi negative, rasa takut menyebabkan seseorang memiliki perasaan-perasaan menegangkan yang membuatnya tidak nyaman. Contohnya katakutan terhadap harimau itu dibawa sampai ke bawah alam sadarnya, yang mungkin akan membuatnya menjadi obsesif untuk membunuh semua harimau dihutan.
Setiap orang dapat mengalami berbagai perasaan takut, dan diantaranya wajar dialami oleh anak. Namun jika rasa takut itu terbawa dalam tahap-tahap anak selanjutnya, rasa takut itu akan berdampak buruk bagi anak, baik dari segi sensori motorik, perkembangan kognitif, sampai perkembangan sosialnya. Secara umun, ada dua jenis phobia yang sering dialami oleh anak:
a)      Benda-benda yang secara objektif menimbulkan ketakutan. Biasanya bisa didengar, dilihat dan dirasakan.
b)      Hal-hal yang subjektif, yaitu perasaan dan sifat yang menyebabkan ketakutan.[4]
Ketakutan pada anak juga dapat menimbulkan kecemasan. Pada situasi tertentu, kecemasan hamper sama dengan ketakutan dan merupakan ketakutan yang pada taraf ringan. Tetapi, sebenarnya ketakutan dan kecemasan adalah suatu hal yang berbeda. Ketakutan disebabkan oleh suatu objek atau situasi tertentu, sedangkan kecemasan terjadi tanpa suatu alas an yang jelas, atau disebabkan oleh situasi yang sebenarnya tidak menakutkan. Kecemasan dapat mencakup semua tingkatan  pengalaman yang terletak antara ketenangan dan ketakutan juga bisa diungkapkan sebagai respon emosional yang tidak menyenangkan dan dalam tingkat yang belebihan.[5]
Mereka yang berlebihan biasanya menampakkan tanda-tanda mukanya merah, pupil mata melebar, menggerakkan otot-otot muka, gelisah, beraktifitas berlebihan, menggigit benda-benda yang ada disekitarnaya, ngompol, dll. Pola kepribadian dasar seseorang terbentuk pada tahun-tahun pertama kehidupan. Adanya pengalaman-pengalaman kurang menguntungkan yang menimpa anakpada masa mudanya akan mudah timbulnya masalah gangguan penyesuaian diri kelaak di kemudian hari.
Pada masa sekolah anak membandingkan dirinya dengan teman-temannya dimana ia mudah sekali dihinggapi rasa ketakutan akan kegagalan dan ejekan temannya. Bila pada masa ini ia sering gagal dan merasa cemas akan tumbuh rasa tidak percaya diri dan akhirnya akan timbul phobia sekolah atau phobia social.
Setiap anak merespon rasa takutnya secara berbeda-beda. Sebagian anak secara terbuka dengan rasa takutnya sedangkan anak lain menunjukkan ketakutan dan kegelisaan pada perilaku mereka. Contoh: menyangkal adanya masalah ( biasa terjadi pada anak laki-laki) menjadi atau nampak bebas bermain lebih agresif, seringkali menciptakan ulang rasa traumatic saat bermain, menghindari situasi baru, mengembangkan gejala tubuh seperti nyeri, sakit, atau gangguan tidur dan nafsu makan.
2.      Sebab-sebab Phobia pada Anak
Secara umum anak mengalami ketakutan dan factor penyebabnya sebagai berikut:
a)      Intelegensi
Anak yang cepat dewasa memiliki ciri khas rasa takut yang dimiliki oleh anak-anak pada tingkat usia yang lebih tua dan anak yang terbelakang mentalnya mempunyai ciri khas rasa takut seperti yang dimiliki oleh anak pada tingkat usia yang lebih muda.

b)      Jenis kelamin
Pada semua tingkat usia dan ditinjau sebagai suatu kelompok, anak-anak perempuan sering memperlihatkan ketakutan lebih banyak dibandingkan dengan anak laki-laki Disamping itu ketakutan anak perempuan kepada objek tertentu. Seperti ular dan binatang kecil lebih diterima secara social.
c)      Status Sosial Ekonomi
Anak-anak dari keluarga berstatus sosial ekonomi rendah pada semua tingkat usia mempunyai ketakutan yang lebih banyak disbanding anak-anak dari keluarga kelas menengan keatas. Mereka terutama takut pada kekerasan, yang merupakan hal yang tidak terlalu ditakuti anak dari keluarga kelas menengah keatas.
d)     Kondisi Fisik
Jika anak-anak dalam keadaan letih lapar dan kurang sehat, mereka bereaksi dengan ketakutan yang lebih besar dibandingkan dengan keadaan yang normal, dan mereka lebih mudah takut terhadap berbagai macam siituasi yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan rasa takut.
e)      Hubungan Sosial
Berada bersama anak lain yang merasa takut juga menimbulkan rasa takut. Jika individu didalam kelompok bertambah maka ketakutan akan dirasakan bersama dan jumlah rasa takut setiap anak akan bertanbah.
f)       Urutan Kelahiran
Anak pertama lebih venderung mempunyai ketakutan yang lebih banyak dibandingkan dengan nak yang lahir kemudian, karena mereka dibayangi sikap orang tua  yang terlalu melindungi. Semakin banyak anak yang lebih muda berhubungan dengan kakak mereka semakin banyak ketakutan yang mereka alami.
g)      Kepribadian
Anak yang emosinya tidak tentram cenderung lebih mudah merasa takut dibandingkan dengan anak yang tentram. Anak yang berkepribadian ekstrovet belajar rasa takut lebih banyak dengan cara menirukan orang lain dibandingkan anak yang berkepribadian introvet.
Rasa takut yang berlebihan ini dapat disembuhkan dengan cara hipnoterapi dalam psikoterapi Islam. Dalam proses hipnoterapi ada unsur relaksasi dimana proses ini bisa diiringi dengan berdo’a dan berdzikir . ketika dalam keadaan relaksasi otak menampakkan gelombang alfa dimana kondisinya dalam keadaan rileks, tetapi siaga dalam melakukan sesuatu. Dzikir itu dapat menjadi slah satu frasa focus dalam roses penyembuhan diri dari kecemasan dan ketakutan. Frasa ini kemudian dikombinasikan denganrespon relaksasi. Seperti firman Allah Q.S Ara’d 28:
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ÉÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ  
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

C.    Analisis Tentang Kasus Phobia
Dari kasus tersebut dapat saya analisis bahwa orang yang mempunyai rasa takut yang berlebihan di dalam Islam tidak diperbolehkan karena pada dasarnya kita hanya boleh takut kepada Allah SWT. Umumnya seorang yang memiliki sifat phobia itu memiliki ekspresi yang berlebihan yakni seperti berteriaka dengan keras, menjerit-jerit berteriak sekeras mungkin, berlari, mencari perlindungan kepada orang lain, menangis, bahkan ada juga yang pingsan.
Rasa takut ini adalah salah satu bentuk manifestasi dari emosi yang tidak stabil. faktor yang mempengaruhi kestabilan emosi itu terletak pada diri individu itu sendiri, yaitu factor keimanan pada Allah SWT. Individu yang benar-benar beriman hanya takut pada Allah saja, ia tidak takut mati ataupun musibah. Individu akan bisa mengendalikan amarahnya, menahan kesedihan, selain itu mempunyai sikap merendahkan diri. Orang yang selalu ingat akan mati dia akan selalu melakukan perbuatan kebajikan baik kepada Allah ataupun kepada sesama manusia {Hablum Minallah Wa Hablum Mmannas i) sebab individu punya keyakinan bahwa segala amal perbuatan akan ada balasanya dihadapan Tuhan dihari pembalasan kelak. Juga orang yang stabil emosinya bila tertimpa suatu musibah dia akan mengatakan bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya pula {Innalillahi Wa Innailaihi Roji'un)., dan individu akan menyerahkan segala urusanya hanya kepada Tuhan setelah individu berusaha dengan sungguh-sungguh.
Faktor lain yang menyebabkan emosi stabil adalah lewat pemahaman terhadap makna A1 Quran. Orang yang memahami makna A1 Quran akan teijadi proses kontrol diri {self control) yang kuat, menggelorakan perasaan, kemantapan diri, menggugah kesadaran {self consciousness) dan proses pembelajaran atau menajamkan wawasan.


























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
. Dian adalah salah seorang yang mempunyai rasa takut yang sangat berlebihan terhadap kucing., mendengar kata kucing saja dia sudah reflek memegang erat seseorang yang ada disampingnya, pernah suatu ketika dia sampai pingsan karena saat ulang tahun yang pada saat itu temannya tidak mengetahui kalau dian takut dengan kucing dan memberinya kado sebuah boneka berbentuk kucing, ketika dibuka seketika itu dia melempar boneka tersebut dan menangis histeris dan tidak lama kemudian dia pingsan. Hal semacam itu yang mungkin sering disebut phobia.
Phobia adalah rasa taku yang irasional, berlebihan dan bersifat terus-menerus terhadap sesuatu atau situasi. Emosi takut adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh setiap orang. Emosi ini sebenarnya positif karena mempunyai makna antisipatif terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan. Dan menurut Dadang Hawari, phobia adalah ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap objek aktifitas atau situasi tertentu, yang menimbulkan suatu keinginan mendesak untuk menghindarinya. Rasa ketakutan ini disadari oleh orang yang bersangkutan sebagai suatu ketakutan yang berlebihan dan tidak masuk akal , namun ia tak mampu mengatasinya
Rasa takut ini adalah salah satu bentuk manifestasi dari emosi yang tidak stabil. faktor yang mempengaruhi kestabilan emosi itu terletak pada diri individu itu sendiri, yaitu factor keimanan pada Allah SWT. Individu yang benar-benar beriman hanya takut pada Allah saja, ia tidak takut mati ataupun musibah. Individu akan bisa mengendalikan amarahnya, menahan kesedihan, selain itu mempunyai sikap merendahkan diri.

B.     Kata Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Dalam makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan yang membutuhkan penyempurnaan, Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca untuk memperbaiki penulisan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini memberi manfaat dan menambah wawasan bagi pembaca. Amin..



DAFTAR PUSTAKA
Karen Diana, Mendampingi Anak Menghadai Rasa Takut, Yogyakarta: Kanisisius, 2008
Hawari Dadang, Al-Qur’an Ilmu kedokteran Jiwa dan kesehatan Jiwa, yogjakarta: PT Dana Bhakti Prima Yoso, 1997
Hude Darwis, Emosi Khazanah Kajian Al Qur’an, Jakarta: Erlangga, 2006
Shaleh Abdur Rahman dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar, Jakarta: Prenada Media, 2004


[1] Darwis Hude, Emosi Khazanah Kajian Al Qur’an, Jakarta: Erlangga, 2006, hal. 137
[2] Abdur Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar, Jakarta: Prenada Media, 2004, hal. 175-176
[3] Dadang  Hawari, Al-Qur’an Ilmu kedokteran Jiwa dan kesehatan Jiwa, yogjakarta: PT Dana Bhakti Prima Yoso, 1997, hal. 64
[4] Karen Diana, Mendampingi Anak Menghadai Rasa Takut, Yogyakarta: Kanisisius, 2008, hal. 19
[5] Ibid, hal. 22


Tidak ada komentar:

Posting Komentar