ILMU
BANTU DALAM PENDIDIKAN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah: Ilmu
Pendidikan
Dosen Pengampu: Drs. H. Ihsan, M. Ag
Disusun oleh kelompok 3 :
Zumrotus
Sholihah : 112225
Nazihul
Fu’adah :
112235
Nanik
Setiyani : 112245
Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri (STAIN) Kudus
Tarbiyah/PAI
2013
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pada
dasarnya ilmu pendidikan merupakan wujud sadar seseorang insan yang dilakukan
secara sistematis dan ilmiah, dalam hal ini bahwasanya ilmu pendidikan memilki
ilmu-ilmu yang terkait untuk mewujudkan kesempurnaan dalam mepelajari
pendidikan yang setiap saat semakin berkembang, oleh karena itu kami akan
menjelaskan tentang ilmu-ilmu yang terkait dalam pendidikan, semisal ilmu bantu
psikologi pendidikan, ini merupakan sebuah ilmu yang mempengaruhi dalam dunia
pendidikan, berhasil tidaknya kita dalam dunia pendidikan dapat kita kaji dan
pelajari yang ada kaitannya dengan ilmu psikologi (kejiwaan), karena dunia
pendidikan itu kita di tuntut tidak hanya membuat siswa didik yang asal mulanya
tidak tahu menjadi tahu, akan tetapi bagaimana kita mengetahui karakteristik
dan potensi yang dimiliki seorang murid, dengan psikologi ini kita dapat mengetahui
semua itu.
Jika
kita kaitkan lagi dengan ilmu-ilmu lain, ilmu pendidikan sangatlah luas
bahasannya atupun keterkaitannya dengan ilmu lain, karena ilmu pendidikan itu
mengajarkan agar setiap insan itu dapat berkembang, baik berkembang dalam dunia
pendidikan formal, maupun informal bahkan erat kaitannya dengan kehidupan yang
ada di masyarakat kita nantinya, oleh karenya ada ilmu sosial, politik,
manajemen, antropologi dan semua ilmu ini sangat membantu dalam ilmu
pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cakupan dan disiplin ilmu lain
yang terkait dengan ilmu pendidikan?
2. Bagaimana landasan dasar filosofi ilmu
pendidikan?
3. Hubungan
ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi, manajemen, dan politik
dengan ilmu pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Cakupan
Disiplin Ilmu Yang Terkait Dengan Ilmu Pendidikan
Konsep
pendidikan mempunyai banyak makna karena pendidikan merupakan kegiatan unik
bagi manusia. Keunikan terletak pada bagaimana manusia mendidik kaumnya
sendiri, dari hal-hal yang buruk yang
seharusnya mereka tinggal menuju hal-hal yang baik yang seharusnya mereka
lakukan. Para ahli juga banyak memberikan
rumusan tentang latar belakang, pengertian, hingga fenomena terbaru tentang
pendidikan, yang semakin memperkaya khazanah pemahaman manusia tentang makna
pendidikan.
Menurut
retno (2000), pendidikan sebagai pembahasan tentang konsep pendidikan perlu
dikaitkan dengan ilmu pendidikan karena keduanya menyangkut masalah hakekat
manusia yang menjelaskan kedudukan peserta didik dan pendidik dalam interaksi
pendidikan. Filsafat pendidikan diturunkan dari filsafat tertentu dimana pemilihan
unsur-unsur serta bagaimana penerapannya tergantung pada bagaimana keyakinan ahli ilmu pendidikan
yang bersangkutan. Keyakinan tersebut
juga dipengaruhi oleh pengalaman mereka dalam melaksanakan kegiatan
pendidikan sebelumnya. Kumpulan kegiatan pendidikan yang ditelaah melalui
penelitian atau refleksi fisafat memberi sumbangan pada perkembangan ilmu
pendidikan. Ilmu pendidikan yang sudah mapan dalam pengembangan dirinya juga
memberikan tafsiran tertentu kepada bahan yang diperoleh dari pengalaman perbuatan
mendidik[1].
Dalam
perkembangannya ilmu pendidikan dikembangkan oleh para ahli psikologi.Di dunia
islam, pendidikan dikembangkan oleh mereka yang dikenal sebagai ahli psikologi,
seperti ibn miskawaih, Al-ghazali dll.Begitu pula halnya, pendidikan eropa,
yang kemudian menjadi istilah pendidikan umum, dikembangkan oleh para
psikolog. Johan frederich Herbalt
adalah pionernya.Ia merupakan filusuf dan psikolog yang pandangan-pandangannya
banyak dikutip oleh freud.Walaupun
pendidikan dikembangkan oleh para psikologi, ia bukan subdisiplin dari
psikologi.Pendidikan menembus banyak disiplin ilmu. Sebagai gejala perilaku,
pendidikan dipelajari oleh macam-macam disiplin ilmu, seperti psikologi,
sosiologi, filsafat, dan disiplin ilmu lainnya termasuk antropologi.[2]
Dalam
penjelasan diatas kami dapat sedikit menyimpulkan bahwasannya ilmu pendidikan
dengan disiplin ilmu lainnya itu saling ada keterkaitan satu sama lain dan
itupun sifatnya saling melengkapi dan saling memberikan penjelasan contoh saja
dalam buku Manejemen Pendidikan Berbasis
Pada Madrasah.Dalam sub bahasan Emotional Question (EQ) dalam kepemimpinan
pendidikan.
Dalam
pendekatan sifat (tract approach) atau juga disebut teori sifat, di bahas
tentang sifat-sifat yang harus dimiliki seseorang pemimpin yaitu yang
membedakannya dengan bukan pemimpin. Bahkan sebenarnya para ahli telah
mengidentifikasi lima sifat negatif yang mencegah orang yang menjadi pemimpin
yaitu tidak mengetahui (uninformed), terlalu kaku, tidak berperan serta,
otoriter dan suka menyerang dengan kata-kata.
Secara
garis besar teori sifat ini terdiri dari sifat positif dan sifat negatif. Sifat
positif sebagaimana di kemukakan oleh Davis (1983) meliputi dewasa, leluasa,
cerdas, humoris, prestatif. Ghizelli dan
stodgill mengemukakan sifat ideal seorang pemimpin terdiri dari:
intepegent, supervisory ability, inisiative, self assurance serta personality.
Keith Davis mengemukakan sifat ideal yang terdiri dari: intellegent, social
maturity and bredth, iner motivation serta personality.
Dalam
sifat-sifat yang dijelaskan oleh para tokoh di atas, kecerdasan emosi atau yang
sering disebut emotional question (EQ) juga sangat menentukan keberhasilan
suatu organisasi, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan, maka dari itu
seorang kepala sekolah juga harus memiliki EQ yang baik guna mencapai
keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan[3].
Contoh
lain pendidikan yang terkait dengan politik, yaitu mimpi Aggaran 20% Untuk
Pendidikan.Diusirnya tenaga kerja indonesia (TKI) indonesia dari malaysia
beberapa waktu lalu sebenarnya merupakan aib tersendiri bagi bangsa ini. Mereka
diusir sebagai tenaga kerja kasar mereka tidak terdidik dan tidak mampu
memenuhi prasyarat-prasyarat bekerja di Negeri orang dengan benar.
Menyikapi
masalah itu, hanya sedikit sekali pejabat yang mengaitkannya dengan upaya
bagaimana meningkatkan pendidikan melalui peningkatan anggaran pendidikan.
Dalam laporan akhir tahun harian
pikiran rakyat tentang Anggaran
Pendidikan, dipertanyakan apakah anggaran pendidikan yang 20% itu dapat
meningkatkan kualitas mutu pendidikan kita.[4]
Jika
dibanding dengan negara ASEAN lainnya, anggaran pendidikan indonesia memang
berada di bawah. Bahkan jika dibanding Laos sekalipun. Lalu anggaran pendidikan
pun menjadi komoditas politik yang bisa “diperjualbelikan”. Kenyataannya
meskipun anggaran pendidikan sekitar 20% dari Anggaran Perencanaan Belanja
Negara (APBN) kualitas pendidikan kita masih semrawut dan masih banyak yang
perlu dibenahi, masih banyak sekolah-sekolah dan fasilitasnyapun tidak layak
sebagai tempat untuk mencari ilmu, bahkan masih ada sekolah yang hanya
beralaskan tanah, ini sungguh memprihatinkan, dengan Anggaran Negara yang
begitu besar, secara kenyataanya fasilitas maupun sarana pendukung lainnya
tidak sesuai dengan apa yang di harapkan, apakah ini merupakan salah dari
pemerintanhya atau pejabat terkait yang menanggani hal ini, merupakan sebuah
pertanyaan besar yang perlu di cari akar masalahnya.[5]
Sedangkan
hubungannya dengan ilmu antropologi yaitu, pada dasarnya objek utama dalam
dunia pendidikan adalah manusia, sedangkan ilmu antropologi sendiri yatiu ilmu
yang mempelajari tentang manusia dan kebudayaannya, jadi setiap tingkah laku
maupun interaksi manusia adalah bersifat pendidikan, namun itu sifatnya masih
bersifat makna luas, sedangkan dalam kebudayaannya sendiri,banyak hal yang
dapat dikaitkan dalam dunia pendidikan, diantaranya ketika kita sebagai orang
jawa yang gemar membantu sesama, ini secara tidak langsung mendidik anak atau
murid kita, untuk memiliki jiwa sosial yang tinggi,
B. Landasan Dasar Filosofi Ilmu Pendidikan
Landasan adalah sesuatu yang menjadi sandaran semua
dasar dalam suatu bangunan, sedangkan dasar adalah fundamen yang menegakkan
suatu bangunan, sehingga menjadi kuat dan kokoh dalam pengembangan pendidikan
Islam.Dalam usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu
tujuan harus mempunyai landasan yang tepat sebagai tempat berpijak yang baik
dan kuat. Oleh karena itu,pendidikan sebagai suatu usaha dalam membentuk
manusia dan peradabannya harus mempunyai landasan yang kuat ke mana semua
kegiatan itu dihubungkan atau disandarkan,baik sebagai sumber maupun dasar yang
menjadi pedoman penerapan dan pengembangannya.
Filsafat pendidikan adalah ilmu yang pada hakekatnya
merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Oleh
karena bersifat filosofis dengan sendirinya filsafat pendidikan ini pada
hakekatnya adalah penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan
pendidikan.Hubungan antara filsafat dan ilmu pendidikan ini tidak hanya
ke-insidental, melainkan suatu keharusan.[6]
Oleh karena filsafat mengadakan tinjauan yang luas
mengenai realita, maka dikupaslah antara lain pandangan dunia dan pandangan
hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep
tujuan dan metodologi pendidikan. Di samping itu, pengalaman pendidik dalam
menuntun pertumbuhan dan perkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan
dengan realita. Semuanya ini dapat disampaikan kepada filsafat untuk dijadikan
bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri.
Bila pendidik memandang formasubstansialitas manusia itu bersifat
biologis, dapat mempunyai visi pendidikan dan naturalistis. Pendidik dalam
lingkungan adalah jean Jacques rousseau, yang menuliskan pandangan-pandangannya
dalam bukunya yang berjudul emile. Dalam buku ini dituliskan bahwa latihan
indera adalah praktek pendidikan yang amat penting artinya.
Lain halnya bila anak didik dipandang sebagai makhluk
spiritual. Landasan untuk menentukan ide dan tujuan pendidikan adalah pandangan
keabadian dan ke-Tuhanan. Anak didik dipandang mempunyai kepribadian bukan
sebagai entitet mekanistis belaka.
Filsafat pendidikan telah sewajarnya dipelajari oleh
mereka yang memperdalam ilmu pendidikan dan keguruan. Ada beberapa alasan untuk
ini :
- Adanya problema-problema pendidikan yang timbul dari zaman ke zaman yang menjadi perhatian ahlinya masing-masing.
- Dapatlah diperkirakan bahwa barang siapa yang mempelajari filsafar pendidikan dapat mempunyai pandangan-pandangan yang jangkauannya meliputi hal-hal yang diketemukan secara ekseprimental atau empiris.
Filsafat
Pendidikan dapat diartikan juga upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi
peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar
potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar
pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan
menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis.
guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat
yang digunakan dalam study mengenai masalah-masalah pendidikan.
Menurut
Zanti Arbi (1988) Filsafat Pendidikan adalah meliputi sebagai berikut :
- Menginspirasikan
Memberi
insparasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam
pendidikan. Sudah tentu ide-ide ini didasari oleh asumsi-asumsi tertentu
tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan dan negara.
- Menganalisis
Memeriksa
teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya.
Hal ini perlu dilakukan agar dalam penyusunan konsep pendidikan secara utuh
tidak terjadi kerancan, umpang tindih, serta arah yang simpang siur.
- Mempreskriptifkan
Upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada
pendidik melalui filsafat pendidikan. Yang jelaskan bisa berupa hakekat manusia
bila dibandingkan dengan mahluk lain, aspek-aspek peserta didik yang patut
dikembangkan; proses perkembangan itu sendiri, batas-batas bantuan yang bisa
diberikan kepada proses perkembangan itu sendiri, batas-batas keterlibatan
pendidik, arah pendidikan yang jelas, target-target pendidikan bila dipandang
perlu, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan kemampuan,
bakat, dan minat anak-anak.
- Menginvestigasi
Memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori
pendidikan. Pendidikan tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatau konsep
atau teori pendidikan untuk dipraktikan dilapangan. Pendidik seharusnya mencari
sendiri konsep-konsep pendidikan di lapangan atau melalui
penelitian-penelitian.
Dari kajian tentang filsafat pendidikan selanjutnya
dihasilkan berbagai teori pendidikan diantaranya :
a)
Perenialisme
lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada
warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pendidikan yang menganut faham ini
menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada
tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
b)
Essensialisme
menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan
keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang
berguna.
c)
Eksistensialisme
menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna.
Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.
d)
Progresivisme
menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta
didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan
bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
e)
Rekonstruktivisme
merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme,
peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang
perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh
menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.
C. Hubungan Ilmu Sosiologi, Politik, Ekonomi,
Manejemen, Antropologi, Filsafat dan Psikologi dengan Ilmu Pendidikan.
Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi Pendidikan dan
pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari masalah pembangunan. Konsep pembangunan
dalam bidang social ekonomi sangat beragam tergantung dari penggunaannya.
Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada
kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan yang kemudian
dikenal dengan istilah invesment inhuman Capital. Dewasa ini berkembang teori
modal manusia ( Teori Human Capital) menjelaskan proses pendidikan yang
memiliki proses positif pada pertumbuhan ekonomi. Teori ini mendominasi
literature pembangunan ekonomi dan pendidikan pada pasca perang dunia kedua
sampai pada tahun 1970-an. Senada dengan pendapat tersebut Nanah Fatah
mengemukakan bahwa investasi sumber daya manusia ( SDM) dan diperkuat hasil
penelitiannya yang telah membuktikan pentingnya pendidikan dalam menunjang
pertumbuhan ekonomi. Sumbangan pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin
kuat setelah memperhitungkan efek interaksi antara pendidikan dengan bentuk
investasi fisik lainnya. Pendekatan di dalam analisis hubungan antara
pendidikan dan pertumbuhan ekonomi menggunakan beberapa model, baik yang
langsung maupun tidak langsung menghubungkan indicator pendidikan dan indicator
ekonomi, seperti model fungsi produksi. Hal inilah yang menyebabkan teori Human
Capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam
meningkatkan produktivitas masyarakat.
Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan
pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan
diselenggarakan untuk meningkatkan dan pengetahuan untuk bekerja. Sebagian
besar ahli ekonomi sepakat bahwa sumber daya manusia ( Human Resource) dari
suatu bangsa sebagai penentu dalam percepatan pembangunan social dan ekonomi
bangsa yang bersangkutan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Federick Harbison
dalam dalam bukunya “ Sumber daya manusia merupakan modal dasar dari kekayaan
suatu bangsa”. Usaha-usaha pendidikan termasuk di dalamnya usaha pengembangan
pemberdayaan manusia merupakan human investment. Sekarang ini kebutuhan akan
pendikan merupakan kebutuhan pokok, bahkan pemerintah telah menetapkan bahwa
sejak tahun 1983 pendidikan merupakan keharusan. Argumen yang disampaikan para
pendukung teori ini adalah manusia yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih
tinggi akan memiliki pekerjaan dan upah yang lebih baik dibandingkan dengan
pendidikannya yang lebih rendah. Apabila upaya mencerminkan produktivitas maka
semakin banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi, semakin tinggi
produktivitas dan hasil ekonomi nasional akan bertambah tinggi.Secara implisit,
pendidikan memberikan kontribusi pada penggalian ilmu pengetahuan.ini
sebenarnya tidak hanya diperoleh dari pendidikan,akan tetapi juga melalui
penelitian dan pengembangan ide-ide,karena pada hakekatnya, pengetahuan yang
sama sekali tidak dapat diimplmentasikan dalam kehidupan manusia dan mubazir.
Isu mengenai sumber daya manusia (human capital)
sebagai input pembangunan ekonomi sebenarnya telah dimunculkan oleh Adam Smith
pada tahun 1776, yang mencoba menjelaskan penyebab kesejahteraan suatu negara,
dengan mengisolasi dua faktor, yaitu;
1)
Pentingnya
skala ekonomi; dan
2)
Pembentukan
keahlian dan kualitas manusia.
Faktor yang kedua inilah yang sampai saat ini telah
menjadi isu utama tentang pentingnya pendidikan dalam meningkatkan pertumbuhan
ekonomi. Pemerintah mempunyai peran aktif dalam rangka meningkatkan kualitas
pendidikan agar SDM yang dihasilkan dapat menjadi sumber untuk pembangunan
negara maupan daerah, dan salah satu usaha pemerintah untuk memajukan
pendidikan yaitu dengan mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun. Hal
ini diatur dalam undang-undang, yaitu Undang-Undang No. 20 tahun 2003 yang
menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun
wajib mengikuti pendidikan dasar, tidak boleh ada drop out karena alasan biaya.
Jika hal ini terjadi, pemerintah dinggap telah mengingkari amanat UU dan
mengingkari tugas bangsa, karena dalam ketetapan pemerintah 20% dari APBN
adalah untuk dialokasikan pada sektor pendidikan.
Hubungan investasi sumber daya manusia (pendidikan)
dengan pertumbuhan ekonomi merupakan dua mata rantai. Namun demikian,
pertumbuhan tidak akan bisa tumbuh dengan baik walaupun peningkatan mutu
pendidikan atau mutu sumber daya manusia dilakukan, jika tidak ada program yang
jelas tentang peningkatan mutu pendidikan dan program ekonomi yang jelas.
Namun, sesungguhnya faktor teknologi dan modal fisik tidak independen dari
faktor manusia. Suatu bangsa dapat mewujudkan kemajuan teknologi, termasuk ilmu
pengetahuan dan manajemen, serta modal fisik seperti bangunan dan peralatan
mesin-mesin hanya jika negara tersebut memiliki modal manusia yang kuat dan
berkualitas. Apabila demikian, secara tidak langsung kontribusi faktor modal
manusia dalam pertumbuhan penduduk seharusnya lebih tinggi dari angka 31
persen. Perhatian terhadap faktor manusia menjadi sentral akhir-akhir ini
berkaitan dengan perkembangan dalam ilmu ekonomi pembangunan dan sosiologi.
Para ahli di kedua bidang tersebut umumnya sepakat
pada satu hal yakni modal manusia berperan secara signifikan, bahkan lebih
penting daripada faktor teknologi, dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Modal
manusia tersebut tidak hanya menyangkut kuantitas, tetapi yang jauh lebih
penting adalah dari segi kualitas. Karena itu, investasi di bidang pendidikan
tidak saja berfaedah bagi perorangan, tetapi juga bagi komunitas bisnis dan
masyarakat umum. Pencapaian pendidikan pada semua level niscaya akan meningkatkan
pendapatan dan produktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan menuju
kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sedangkan kegagalan
membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem krusial: pengangguran,
kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan welfare dependency yang menjadi beban
sosial politik bagi pemerintah. Lalu pertanyaannya, apakah ukuran yang dapat
menentukan kualitas manusia? Ada berbagai aspek yang dapat menjelaskan hal ini
seperti aspek kesehatan, pendidikan, kebebasan berbicara dan lain sebagainya.
Di antara berbagai aspek ini, pendidikan dianggap
memiliki peranan paling penting dalam menentukan kualitas manusia. Lewat
pendidikan, manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan, dan dengan
pengetahuannya manusia diharapkan dapat membangun keberadaan hidupnya dengan
lebih baik. Dari berbagai studi tersebut sangat jelas dapat disimpulkan bahwa
pendidikan mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi melalui
berkembangnya kesempatan untuk meningkatkan kesehatan, pengetahuan, dan
ketarmpilan, keahlian, serta wawasan mereka agar mampu lebih bekerja secara
produktif, baik secara perorangan maupun kelompok. Implikasinya, semakin tinggi
pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas. Dalam kaitannya dengan
perekonomian secara umum (nasional), semakin tinggi kualitas hidup suatu
bangsa, semakin tinggi tingkat pertumbuhan dan kesejahteraan bangsa tersebut.
Asumsi dasar dalam menilai kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi
dan pengurangan kesenjangan adalah pendidikan dapat meningkatkan produktivitas
pekerja Jika produktivitas kerja meningkat ,maka pertumbuhan ekonomi akan
meningkat pula.
Dengan kata lain,pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga
yang siap bekerja. Namun demikian pada kenyataan tingkat pengangguran di hampir
seluruh negara bertambah 2% setiap tahunnya (world Bank : 1980).terjadinya
pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan, namun
pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan jenis pekerjaan. Sekolah
memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu, tetapi
sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai.
Terdapai berbagai macam factor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi
diukur dengan baik. Di antara ukuran-ukuran tersebut,diantaranya:
a.
Pendapat
perkapita
b.
Perubahan
peta ketenaga kerjaan dari pertanian ke industri
c.
Komsumsi
energi atau pemakaian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan
d.
Peningkatan
dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP
e.
Kepuasan
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat , dan
f.
Pencapaian
tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat , yang dikaitkan dengan
penggunaan sumber daya yang terbatas. Walaupun
sangat sulit untuk dicatat dalam dokumen statistik Todaro berkeyakinan bahwa
kesempatan pendidikan dalam segala tingkatan, telah mendorong pertumbuhan
ekonomi melalui :
1.
Terciptanya
angkat kerja yang lebih produktif karena bekal pengetahuan dan keterampilan mereka yang lebih
baik.
2.
Tersedianya
kesempatan kerja yang lebih luas.
3.
Terciptanya
suatu kelompok pimpinan yang terdidik untuk mengawasi lowongan jabatan di unit
usaha, lembaga, perusahaan dan organisasi pemerintah/ swasta dan lain-lain.
4.
Tersedianya
berbagai program pendidikan dan pelatihan.
Hubungan antara
pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya
karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Di
negara non-Industri, perekonomiannya sangat tergantung pada sector pertanian
sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak di sector pertanian dan
bekerja di sector non-industri. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi
berarti penanaman modal atau uang. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan
untuk mendapatkan keuntungan yang digunakan untuk kegiatan yang dapat
memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Biaya suatu investasi merupakan
keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan sumber daya manusia dalam berbagai
kegiatan. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau
uang yang sengaja diilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang
dihasilkan. Sementara pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun
manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari
dimensi waktu dan ruang. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah
pembelajaran seumur hidup ( Life long learning).
Oleh sebab itu hasil pendidikan akan menjadikan sumber
daya manusia yang dapat berguna dalam pembangunan suatu negara. Investasi
pendidikan memberikan nilai balik ( rate of return) yang lebih tinggi dari pada
investasi fisik di bidang llain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan
antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total
pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia
kerja. Di negara- negara berkembang umumnya menunjukkan nilai balik terhadap
investasi pendidikan yang relative lebih tinggi dari pada investasi modal
fisik. Investasi dalam Pendidikan dan Ekonomi Pendidikan memiliki daya dukung yang
representative atas pertumbuhan ekonomi ekonomi, mengungkapkan bahwa pendidikan
dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang yang kemudian akan
meningkatkan perdapatannya.
Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula pada
pendapatan nasional negara yang bersangkutan yang keudian akan meningkatkan
pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Sementara itu
Johanes ( 1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja
terdidik dan terlatih yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Ia melihat bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa
menjadi tenaga kerja potensial dan menjadi lebih siap dan terlatih dalam
pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja yang secara
langsung akan meningkatkan pendapatan nasional. Pendidikan dan pekerjaan
merupakan ukuran yang paling popular dalam melihat kontribusi pendidikan dan
pertumbuhan ekonomi.
Pemikiran ini berdasarkan pada anggapan bwhwa
pendidikan merupakan Human Capital. Pemikiran ini muncul pada era
industrialisasi dalam masyarakat modern. Argumen ini memiliki dua aspek yaitu:
a.
Pendidikan
merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia yang diibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern.
b.
Investasi
pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan
kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Sebagai ilustrasi
meningkatnya tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan
tiga pengaruh positif yaitu mengingatkan gaji pekerja golongan ini.
1.
Analisis
Biaya dan Manfaat Pendidikan
Pengertian Biaya Pendidikan Secara bahasa biaya (cost)
dapat diartikan pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pengeluaran dapat
berupa uang atau bentuk moneter lainnya. Pengertian biaya dalam ekonomi adalah
pengorbanan-pengorbanan yang dinyatakan dalam bentuk uang, diberikan secara
rasional, melekat pada proses produksi, dan tidak dapat dihindarkan. Bila tidak
demikian, maka pengeluaran tersebut dikategorikan sebagai pemborosan. Dan biaya
pendidikan menurut Prof. Dr. Dedi Supriadi, merupakan salah satu komponen
instrumental (instrumental- input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan
pendidikan (di sekolah). Biaya dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas,
yakni semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan,
baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga.
Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah
kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap
komponennya, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan)
hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan
pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi
dalam penggunaanya, akuntabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan
yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan
permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan,
sehingga diperlukan studi khusus untuk lebih spesifik mengenal pembiayaan
pendidikan ini.
Nanang Fattah menambahkan biaya dalam pendidikan
meliputi biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost).
Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan
pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa seperti pembelian alat-alat
pembelajaran, penyediaan sarana pembelajaran, biaya transportasi, gaji guru,
baik yang dikeluarkan pemerintah, orang tua maupun siswa sendiri. Sedangkan
biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang dalam bentuk biaya
kesempatan yang hilang yang dikorbankan oleh siswa selama belajar, contohnya,
uang jajan siswa, pembelian peralatan sekolah (pulpen, tas, buku tulis,dll).
Analisis biaya manfaat merupakan metodologi yang
banyak digunakan dalam melakukan analisis investasi pendidikan. Metode ini
dapat membantu para pengambil keputusan dalam menentukan pilihan diantara
alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas tetapi memberikan
keuntungan yang tinggi. Dalam konsep dasar pembiayaan pendidikan ada dua hal
penting yang perlu dikaji atau dianalisis, yaitu biaya pendidikan secara
keseluruhan (total cost) dan biaya satuan per siswa (unit cost). Biaya satuan
ditingkat sekolah merupakan Aggregate biaya pendidikan tingkat sekolah baik
yang bersumber dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat yang dikerluarkan
untuk menyelenggarakan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Biaya satuan
per-murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang
dialokasikan sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh
pendidikan.
Oleh karena biaya satuan ini diperoleh dengan
memperhitungkan jumlah murid pada masing-masing sekolah, maka ukuran biaya
satuan dianggap standar dan dapat dibandingkan antara sekolah yang satu dengan
yang lainnya. Analisis mengenai biaya satuan dalam kaitannya dengan
faktor-faktor lain yang mempengaruhinya dapat dilakukan dengan menggunakan
sekolah sebagai unit analisis. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan
kita untuk mengetahui efisiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah,
keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat,
pemerintah untuk pendidikan.
Disamping itu, juga dapat menjadi penilaian bagaimana
alternatif kebijakan dalam upaya perbaikan atau peningkatan sistem pendidikan.
Komponen Biaya Pendidikan meliputi:
a)
Peningkatan
KBM
b)
Pembinaan
tenaga kependidikan
c)
Pengadaan
alat-alat belajar
d)
Pengadaan
bahan pelajaran
e)
Sarana kelas
f)
Sarana
sekolah
g)
Pembinaan
siswa
h)
Pengelolaan
sekolah
i)
Pemeliharaan
dan penggantian sarana dan prasarana pendidikan
j)
Biaya
pembinaan, pemantauan, pengawasan dan pelaporan.
k)
Peningkatan
mutu pada semua jenis dan jenjang pendidikan;
l)
Peningkatan kemampuan dalam menguasai iptek.
m)
Peningkatan
pembinaan kegiatan siswa
Sumber-sumber dana pendidikan antara lain meliputi:
Anggaran rutin (DIK); Anggaran pembangunan (DIP); Dana Penunjang Pendidikan
(DPP); Dana BP3; Donatur; dan lain-lain yang dianggap sah oleh semua pihak yang
terkait. Pendanaan pendidikan pada dasarnya bersumber dari pemerintah, orang
tua dan masyarakat (pasal 33 No. 2 tahun 1989). Sejalan dengan adanya Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS), sekolah dapat menggali dan mencari sumber-sumber dana
dari pihak masyarakat, baik secara perorangan maupun secara melembaga, baik di
dalam maupun di luar negeri, sejalan dengan semangat globalisasi. Dana yang
diperoleh dari berbagai sumber itu perlu digunakan untuk kepentingan sekolah,
khususnya kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien. Sehubungan
dengan itu, setiap perolehan dana, pengeluarannya harus didasarkan pada
kebutuhan-kebutuhan yang telah disesuaikan dengan rencana anggaran pembiayaan
sekolah (RAPBS). D.
Analisis Manfaat Biaya Setelah memahami bentuk biaya,
tujuan dari analisis biaya adalah untuk memberikan kemudahan, memberikan
informasi pada para pengambil keputusan untuk menentukan langkah/cara dalam
pembuatan kebijakan sekolah, guna mencapai efektivitas maupun efisiensi
pengolahan dana pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan. Secara khusus,
analisis manfaat biaya pendidikan bagi pemerintah menjadi acuan untuk
menetapkan anggaran pendidikan dalam RAPBN, dan juga sebagai dasar untuk
meningkatkan kualitas SDM dengan meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Sedangkan bagi masyarakat, analisis manfaat biaya pendidikan ini berguna
sebagai dasar/pijakan dalam melakukan ”investasi” di dunia pendidikan. Hal ini
dirasakan penting untuk diketahui dan dipelajari, karena menurut sebagian
masyarakat pendidikan hanya menghabis-habiskan uang tanpa ada jaminan/prospek
peningkatan hidup yang jelas dimasa yang akan datang.
Sedangkan dalam ilmu sosiologi, secara
harfiah atau etimologi (definisi nominal), Sosiologi berasal dari bahasa Latin:
Socius = teman, kawan, sahabat, dan logos = ilmu pengetahuan.
Sedangkan menurut terminologi, definisi Sosiologi berdasarkan para pakar adalah
sebagai berikut:
1)
Sosiologi
adalah studi tentang hubungan antara manusia (human relationship).
(Alvin Bertrand)
2)
Sosiologi
adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan,
yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok
dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis.
(Mayor Polak)
3)
Sosiologi
adalah ilmu masyarakat umum. (P.J. Bouwman)
4)
Sosiologi
atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses
sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. (Selo Soemardjan dan Soelaiman
Soemardi).
Jadi kami selaku pemakalah dapat menyimpulkan bahwa
sosiologi itu adalah suatu ilmu yang mempelajari suatu interaksi seseorang
dengan orang lain dan lingkungan masyarakat. Sekarang bagaimana dengan
pengertian sosiologi pendidikan itu sendiri?
Mengenai
pertanyaan diatas ada dua pendapat, yaitu:
a)
Menurut
Prof. Dr. S. Nasution, MA. Mengatakan bahwa memberikan definisi sosiologi
pendidikan tidak mudah. Para ahli pendidikan dan ahli sosiologi telah berusaha
untuk memberikan definisi sosiologi pendidikan, namun definisi-definisi itu
kebanyakan tidak terpakai oleh orang lapangan. Kesukaran untuk memperoleh
definisi yang mantap tentang sosiologi pendidikan antara lain disebabkan:
Ø
Sukarnya
membatasi bidang studi di antara bidang pendidikan dan bidang sosiologi.
Ø
Kurangnya
penelitian dalam bidang ini, dan
Ø
Belum
nyatanya sumbangannya kepada pendidikan umumnya dan pendidikan guru khususnya.
b)
Pendapat
yang kedua, para ahli memberikan pengertiannya, yaitu:
1)
Menurut F.G.
Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya
menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung
pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur
kepribadian dan hubungan kesemuanya dengantata sosial masyarakat. Sedangkan
dinamika yakni proses sosial dan kultural, proses perkembangan kepribadian,dan
hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan.[7]
2)
Menurut H.P.
Fairchild dalam bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa
sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan
masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied
sociology.
3)
Menurut Prof.
DR S. Nasution,M.A., Sosiologi Pendidikana dalah ilmu yang berusaha
untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan
kepribadian individu agar lebih baik.
4)
Menurut F.G
Robbins dan Brown, Sosiologi Pendidikan ialah ilmu yang membicarakan dan
menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk
mendapatkan serta mengorganisasi pengalaman. Sosiologi pendidikan mempelajari
kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
5)
Menurut E.G
Payne, Sosiologi Pendidikan ialah studi yang komprehensif tentang segala
aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan.
6)
Menurut Drs.
Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha
memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan
sosiologis.
Dari beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan
bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek
pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan, ataupun
aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan
sosiologis.
Arti penting psikologi dalam dunia
pendidikan karena itu merupakan keharusan yang tak bisa ditawar-tawar bagi
setiap pendidik yang kompeten dan profesional adalah melaksanakan profesinya
sesuai dengan keadaan peserta didik. Para ahli psikologi dan pendidikan pada
umumnya bekeyakinan bahwa dua orang anak(yang kembar sekalipun) tak pernah
memiliki respon yang sama persis terhadap situasi belajar mengajar disekolah.
Keduanya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan, kematangan jasmani,
intelegensi, dan keterampilannya.
Dalam interaksi antar individu ini baik
antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa lainnya, terjadi
proses dan peristiwa psikologis. Peristiwa dan proses psikologis ini sangat
perlu untuk dipahami dan dijadikan landasan oleh para guru dalam memperlakukan
para siswa secara tepat.
Beerling mengatakan bahwa orang Yunani
yang mula-mula sekali berfilsafat di barat mengatakan bahwa filsafat yang timbul karena ketakjuban.
Ketakjuban menyaksikan keindahan dan kerahasiaan alam semesta ini lantas
menimbulkan keinginan mengetahuinya. Plato mengatakan bahwa filsafat di mulai
dari ketakjuban. Sikap heran atau takjub itu akan lahir dalam bentuk bertanya.
Pertanyaan itu memerlukan jawaban. Bila pemikit menemukan jawaban, jawaban itu
dipertanyakan lagi karena ia swlalu sangsi pada kebenaran yang ditemukannnya.
Patrick mulder mengatakan manakala kebenaran mereka menjadi serius dan
penyelidikan menjadi sistematis, mereka menjadi filosof. Disini dapat kita ambi
pelajaran bahsannya rasa keingintahuan kita dalam keseharian terlebih dalam
dunia pendidikan, jika kita akan amati itulah proses dalam dunia pendidikan,
yang asalnya tidak tahu menjadi tahu
Sedangkan dalam ilmu antropologi, Pengertian Antropologi = Anthropologi berasal dari kata
Yunani anthropos yang berarti
"manusia" atau
"orang", dan logos yang berarti "wacana"
(dalam pengertian "bernalar", "berakal"). Anthropologi
mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Antropologi secara garis besar dipecah menjadi 2
bagian, yaitu antropologi fisik/biologi dan antropologi budaya. Tetapi dalam
pecahan antropologi budaya, terpecah – pecah lagi menjadi banyak sehingga
menjadi spesialisasi – spesialisasi, termasuk Antropologi Pendidikan. Seperti
halnya kajian antropologi pada umumnya, antropologi pendidikan berusaha
menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam
rangka memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia
khususnya dalam dunia pendidikan. Studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi
termuda dalam antropologi
Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses
pembelajaran, pemberian pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran,
karakter serta kapasitas fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan
yang ingin dicapai dapat dipenuhi. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga
formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut
dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya.
Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan berubah cepat,
pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai
satu keseluruhan.
Dengan makin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin
banyak diperlukan waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat
kebudayaan di masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam
mempelajari kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam
hal ini pendidik dan antropolog harus saling bekerja sama, dimana keduanya
sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. Pendidikan
bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi
kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehinga dapat menyesuaikan diri
pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan diluar
kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap kebudayaan.
G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang
bisa diberikan antropologi terhadap pendidikan adalah menghimpun sejumlah
pengetahuan empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek
proses pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan social budayanya. Teori
khusus dan percobaan yang terpisah tidak akan menghasilkan disiplin antropologi
pendidikan. Pada dasarnya, antropologi pendidikan mestilah merupakan sebuah
kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam prespektif
budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropolog terhadap pendidikan
dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan.(Imran Manan, 1989)
Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan maka
antropologi bermanfaat bagi pendidikan. Hal ini disebabkan karena kebudayaan
yang ada dan berkembang dalam masyarakat bersifat unik dan sukar untuk
dibandingkan. Setiap penyelidikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan
memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi pendidikan.
Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus
dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek
pendidikan dalam prespektif budaya, sehingga antropolog menyimpulkan bahwa
sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam
membimbing masyarakat. Namun ada kalanya sejumlah metode mengajar kurang
efektif dari media pendidikan sehingga sangat berlawanan dengan data yang
didapat di lapangan oleh para antropolog. Tugas para pendidik bukan hanya
mengeksploitasi nilai kebudayaan namun menatanya dan menghubungkannya dengan
pemikiran dan praktek pendidikan sebagai satu keseluruhan.
Anthropologi memiliki dua sisi holistik dimana
meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama
inilah yang secara tradisional memisahkan anthropologi dari disiplin ilmu
kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar
manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi
sehingga metode anthropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan
penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan dan penjelasan
yang singkat tentang keterkaitan ilmu bantu dalam dunia pendidikan, yang
diantaranya ada ilmu sosial, politik, antropologi, manejemen, psikologi dan
filsafat. Dan semua ilmu-ilmu bantu ini sangat membantu dalam proses pendidikan
baik yang dilakukan secara formal(di sekolah-sekolah), maupun pendidikan yang
sifatnya non-formal yang berada di luar sekolah, pada dasarnya yang namanya
ilmu pendidikan itu dapat dilakukan manusia dengan cara mengamati dan memahami
apa perkembangan yang ada di muka bumi ini, mungkin dapat dikatakan ilmu
pendidikan itu bersifat ilmiah ataupun bersifat rekayasa.
Sedangkan dalam filosofi dasar ilmu
pendidikan ialah, bahwasanya ilmu pendidikan merupakan kebanyakan ilmu lainnya,
ia lahir dari ilmu filsafat, sejalan dengan proses perkembangan
ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pada
awalnya pendidikan berada bersama dengan filsafat, sebab filsafat tidak pernah
bisa membebaskan diri dari pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh
maunusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia,
dan peningkatan hidup manusia. Sebagaimana cabang ilmu lainnya pendidikan
merupakan cabang dari filsafat.
Dalam kaitannnya ilmu-ilmu pendidikan dengan ilmu lain
seperti, ilmu ekonomi, dalam dunia pendidikan tidak terlepas adanya ilmu
ekonomi yang terlibat di dalamnya, karena adanya infrastruktur dan lain
sebagainya, perkembangan kualitas dan prestasi sebuah lembaga pendidikan dapat juga
dilihat dari infrastruktur yang ada didalamnya, meskipun itu bukan merupakan
hal yang essensial dalam menentukan prestasi sebuah lembaga.
B.
Kata Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami
susun. Disini kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak adanya kekurangan
yang membutuhkan penyempurnaan. Oleh karena itu kami minta maaf dan sangat
membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Dan semoga makalah ini menambah pengetahuan dan wawasan
bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum Akal
dan Hati
Sejak Thales sampai Capra, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2002
Benny Susetyo, Politik
Pendidikan Penguasa, Yogyakarta:
Lkis, 2005
Fatah Syukur, Manejemen
Pendidikan Berbasis pada
Madrasah, Semarang:
PT Pustaka Rizki Putra, 2011
Kahar Utsman, Sosiologi Pendidikan, Kudus:Buku
Daros, 2009
Kisbiyanto, Ilmu
Pendidikan, Kudus: Nora Art, Kudus, 2010
Mahmud, Psikologi Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2010
[3] Fatah Syukur , Manejemen
Pendidikan Berbasis Pada Madrasah, Semarang: PT Pustaka
Rizki Putra, 2011, hal. 27-28.
